BMKG Dorong Prakiraan Berbasis Dampak untuk Cegah Risiko Bencana
- 14 Agt 2026 13:54 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mendorong penerapan prakiraan berbasis dampak atau Impact Based Forecast (IBF) sebagai landasan memperkuat budaya tangguh bencana. Pendekatan tersebut diharapkan mendorong masyarakat dan berbagai sektor untuk melakukan aksi dini setelah menerima informasi peringatan dini.
Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Kamis, 13 Agustus 2026, perubahan iklim berdampak luas terhadap berbagai wilayah dan sistem iklim global. Kondisi tersebut turut meningkatkan kejadian ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologi yang dapat mempengaruhi kesehatan, ketersediaan air, pangan, hingga energi.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, kebutuhan menerjemahkan peringatan dini menjadi aksi semakin penting seiring dengan meningkatnya dampak perubahan iklim. Menurutnya, informasi mengenai potensi bencana perlu diikuti langkah nyata agar masyarakat dan berbagai sektor dapat mengurangi risiko yang mungkin muncul.
“Sejak 1850, terjadi kenaikan rata-rata suhu permukaan bumi sebesar 1,4–1,5ºC, di Indonesia sendiri tercatat kenaikan suhu sebesar 0,8ºC, dan apabila tidak dilakukan upaya pengurangan laju kenaikan, suhu bumi diproyeksikan meningkat hingga 3ºC pada 2050,” kata Faisal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan aksi dini dan pemanfaatan informasi berbasis dampak dalam menghadapi risiko perubahan iklim. Faisal mengatakan, pendekatan IBF menjadi salah satu upaya untuk memperkuat aksi dini karena prosesnya dilakukan secara menyeluruh mulai dari observasi, analisis dan pemodelan, penilaian dampak, hingga penyusunan prakiraan berdasarkan dampak yang mungkin terjadi. BMKG memanfaatkan berbagai pendekatan, termasuk prediksi cuaca numerik, prediksi iklim, model hidrologi, kecerdasan buatan atau AI, hingga pemodelan tsunami.
Menurut Faisal, penilaian dampak dalam sistem IBF menggabungkan unsur bahaya, keterpaparan, dan kerentanan untuk memberikan gambaran mengenai risiko secara lebih spesifik. Dengan pendekatan tersebut, informasi yang disampaikan tidak hanya menjelaskan ancaman yang mungkin terjadi, tetapi juga membantu mengetahui pihak yang berpotensi terdampak serta tingkat risikonya.
“Penilaian dampak menggabungkan bahaya, keterpaparan, dan kerentanan sehingga memungkinkan kita memahami bukan hanya apa saja ancamannya, tetapi siapa yang terdampak dan seberapa besar risikonya,” ujar Faisal.
Informasi tersebut diharapkan dapat membuat peringatan dini lebih relevan bagi pengguna, mempercepat respons, serta meningkatkan efektivitas upaya mitigasi bencana. Penerapan IBF juga telah dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan di berbagai sektor, salah satunya pertanian yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan cuaca dan iklim.
Di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan misalnya, informasi peringatan dini potensi kekeringan mendorong percepatan jadwal tanam dan pemanfaatan sumber air alternatif sehingga sekitar 7.067 hektare lahan pertanian dapat diselamatkan dari risiko gagal panen.
BMKG menilai peringatan dini akan memberikan manfaat maksimal apabila diikuti dengan aksi dini yang dilakukan masyarakat, pemerintah, dan berbagai sektor terkait. Melalui penguatan prakiraan berbasis dampak, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya kesiapsiagaan diharapkan semakin kuat dalam menghadapi risiko bencana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....