Riset Dompet Jatuh Ungkap Peta Kejujuran Dunia
- 28 Jul 2026 15:30 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor - Sebuah penelitian internasional yang menguji tingkat kejujuran masyarakat di berbagai negara kembali menjadi perhatian publik. Studi yang dikenal dengan metode lost wallet atau "dompet jatuh" ini memetakan kecenderungan masyarakat dalam mengembalikan dompet yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat kejujuran antarnegara, meski para ilmuwan mengingatkan bahwa temuan tersebut tidak bisa dijadikan ukuran mutlak karakter suatu bangsa. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science pada 20 Juni 2019 dengan judul Civic Honesty Around the Globe.
Penelitian yang dipimpin Alain Cohn dari University of Michigan bersama peneliti dari University of Zurich melibatkan 17.003 dompet yang sengaja "ditinggalkan" di 355 kota di 40 negara. Dompet-dompet tersebut diserahkan kepada pegawai di berbagai institusi dan tempat usaha, lalu peneliti mencatat berapa banyak yang akhirnya dikembalikan kepada pemiliknya. Metode ini dirancang untuk mengukur perilaku jujur masyarakat dalam situasi nyata, bukan melalui survei atau pengakuan pribadi.
Hasil penelitian menempatkan Swiss, Norwegia, dan Belanda sebagai tiga negara dengan tingkat pengembalian dompet tertinggi. Posisi sepuluh besar juga diisi Denmark, Swedia, Polandia, Republik Ceko, Selandia Baru, Jerman, dan Prancis. Sementara itu, kelompok negara dengan tingkat pengembalian terendah antara lain Turki, China, Maroko, Peru, Kazakhstan, Kenya, Malaysia, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Ghana. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di posisi kesembilan negara dengan tingkat pengembalian dompet terendah.
Salah satu temuan yang menarik adalah dompet yang berisi uang dalam jumlah lebih besar justru lebih sering dikembalikan dibandingkan dompet yang berisi sedikit uang atau bahkan kosong. Dalam penelitian tersebut, dompet yang berisi sekitar US$94,25 dikembalikan sebanyak 72 persen, sedangkan dompet dengan isi sekitar US$13,46 memiliki tingkat pengembalian 51 persen. Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa pertimbangan moral dan rasa tanggung jawab dapat lebih kuat daripada keuntungan finansial yang diperoleh dari mengambil isi dompet.
Meski demikian, hasil penelitian ini masih menjadi bahan diskusi di kalangan akademisi. Dr. Jareef Martuza, asisten profesor di Departemen Strategi dan Manajemen Norwegian School of Economics, menyatakan bahwa tingkat kejujuran dipengaruhi banyak faktor, mulai dari norma sosial, kepentingan pribadi, hingga kondisi budaya di masing-masing negara. Karena itu, hasil penelitian tidak serta-merta mencerminkan karakter seluruh masyarakat di suatu negara.
Pendapat serupa juga disampaikan Dr. David Hugh-Jones dari University of East Anglia (UEA). Dalam penelitian lain, ia menemukan bahwa hasil pengukuran kejujuran dapat berbeda bergantung pada metode yang digunakan. Misalnya, pada eksperimen lempar koin berhadiah uang, tingkat kejujuran responden di Inggris dan China menunjukkan hasil yang berbeda dibandingkan ketika peserta mengikuti tes daring yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Hal ini mengindikasikan bahwa kejujuran merupakan perilaku yang kompleks dan dipengaruhi oleh konteks.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa hasil penelitian ilmiah perlu dipahami secara utuh, termasuk metode dan keterbatasannya. Alih-alih memberi label pada suatu bangsa, studi ini lebih tepat dijadikan bahan evaluasi mengenai pentingnya membangun budaya integritas, kepercayaan, dan tanggung jawab sosial. Nilai kejujuran tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat, terlepas dari peringkat yang dihasil
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....