Blue Moon Siap Hiasi Langit Akhir Mei

  • 17 Mei 2026 22:45 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Fenomena Blue Moon diperkirakan akan kembali menghiasi langit malam pada akhir Mei 2026. Peristiwa astronomi ini menjadi perhatian karena tergolong jarang terjadi dan hanya muncul sekitar sekali dalam dua hingga tiga tahun. Informasi tersebut dijelaskan dalam laporan NASA Science dan Britannica yang diakses Minggu (17 mei 2026).

Blue Moon bukan berarti Bulan berubah menjadi biru secara otomatis. Dalam dunia astronomi modern, istilah tersebut digunakan untuk menyebut bulan purnama kedua yang muncul dalam satu bulan kalender. Fenomena ini terjadi karena siklus fase Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari sehingga dalam kondisi tertentu dapat muncul 13 kali bulan purnama dalam setahun.

Britannica menjelaskan, rata-rata Blue Moon muncul setiap 33 bulan atau sekitar tujuh kali dalam 19 tahun. Karena kelangkaannya, muncul ungkapan populer “once in a blue moon” yang menggambarkan sesuatu yang jarang terjadi.

Meski demikian, sejarah pernah mencatat kejadian ketika Bulan benar-benar tampak kebiruan. NASA menyebut fenomena tersebut pernah terjadi setelah Letusan Krakatau 1883 yang menyebarkan abu vulkanik hingga puluhan kilometer ke atmosfer. Partikel abu berukuran sangat kecil menyaring cahaya merah dan membuat Bulan terlihat biru kehijauan dari Bumi.

Laporan Natural History Museum menyebut dampak letusan Krakatau tidak hanya memengaruhi Indonesia, tetapi juga kondisi atmosfer dunia selama berbulan-bulan. Abu vulkanik yang menyebar di lapisan atmosfer bahkan membuat warna langit dan Bulan tampak berbeda di sejumlah wilayah dunia.

Fenomena serupa juga pernah tercatat setelah letusan Gunung El Chichón di Meksiko pada 1983, Gunung St. Helens pada 1980, dan Gunung Pinatubo pada 1991. NASA menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat terjadi apabila partikel abu di atmosfer memiliki ukuran tertentu yang mampu menyaring cahaya merah dan membiarkan warna biru lebih dominan terlihat.

Blue Moon berikutnya diprediksi muncul pada 31 Mei 2026 dan dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia apabila cuaca cerah. Pengamat astronomi disarankan memilih lokasi minim polusi cahaya agar fenomena langit tersebut terlihat lebih jelas. Selain mata telanjang, penggunaan teleskop atau binokular juga dapat membantu menikmati detail permukaan Bulan secara lebih optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....