Tak Hanya Sapu-sapu, Deretan Ikan Invasif Ini Diam-diam Mengancam Perairan Kita

  • 26 Apr 2026 13:11 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Fenomena membludaknya ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Indonesia, khususnya di Jakarta, kembali menjadi sorotan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan aksi pembersihan besar-besaran di Sungai Ciliwung untuk menekan populasi ikan yang dikenal invasif ini. Meski kerap dianggap sebagai “pembersih” alami di akuarium, keberadaan ikan sapu-sapu di alam liar justru menimbulkan ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem perairan.

Mengutip laporan Nature World News yang dipublikasikan pada 2024, ikan sapu-sapu banyak ditemukan hidup liar di berbagai wilayah, termasuk di Texas, Amerika Serikat. Kemunculan ini diduga kuat berasal dari pelepasan oleh pemilik akuarium ke perairan umum. Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana populasi ikan ini berkembang pesat tanpa kendali. Di Sungai Ciliwung, kehadiran ikan sapu-sapu dikaitkan dengan menurunnya keanekaragaman ikan lokal. Spesies yang berasal dari Amerika Selatan ini masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias. Namun, pelepasan ke alam liar—baik disengaja maupun tidak—membuat ikan ini berkembang menjadi spesies invasif yang sulit dikendalikan.

Dalam riset berjudul Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia yang dilakukan oleh Gema Wahyu Dewantoro dan Ike Rachmatika pada tahun 2020, ikan sapu-sapu dikategorikan sebagai ikan introduksi invasif. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ikan introduksi adalah spesies yang bukan berasal dari habitat asli Indonesia, dan disebut invasif ketika keberadaannya memberikan dampak negatif terhadap komunitas ekosistem perairan.

Masih dalam penelitian yang sama (Dewantoro dan Rachmatika, 2020), dijelaskan bahwa karakteristik ikan invasif umumnya memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, berkembang biak dengan cepat, serta mampu memanfaatkan berbagai sumber makanan. Bahkan, dalam beberapa kasus, spesies ini tidak memiliki predator alami di lingkungan barunya sehingga dapat mendominasi dan menyingkirkan ikan lokal.

Namun, ikan sapu-sapu bukan satu-satunya ancaman. Studi ini juga mencatat keberadaan ikan guppy atau ikan seribu (Poecillia reticulata) sebagai spesies invasif. Ikan ini awalnya diperkenalkan sekitar tahun 1920 untuk mengendalikan larva nyamuk penyebab malaria, namun tidak efektif. Kini, ikan guppy justru menyebar luas dan menjadi salah satu spesies dominan di perairan Jawa dan Bali. Selain itu, dalam kajian yang sama (2020), ikan red devil (Amphilophus labiatus) juga menjadi perhatian karena sifatnya yang agresif. Ikan yang masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an ini dilaporkan mendominasi hingga 75 persen hasil tangkapan nelayan di Waduk Kedungombo dan Waduk Sermo, serta telah menyebar ke Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur.

Sementara itu, ikan mujair (Oreochromis mossambicus) juga dibahas dalam penelitian tersebut sebagai spesies introduksi yang awalnya invasif. Dalam laporan Dewantoro dan Rachmatika (2020), ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia pada 1939 dan sempat menyebabkan kepunahan ikan endemik di Danau Poso dan Danau Lindu. Meski demikian, saat ini mujair telah berkembang menjadi komoditas perikanan penting dan dibudidayakan secara luas.

Fenomena ikan invasif ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan ekosistem perairan yang bijak. Pelepasan ikan ke alam liar tanpa pengawasan dapat berdampak jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat serta kebijakan yang tepat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....