El Nino Menguat, Dunia Hadapi Panas Ekstrem 2026

  • 26 Apr 2026 12:50 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Sejumlah ilmuwan memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu periode terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah modern. Peringatan ini berkaitan dengan kemunculan fenomena El Nino yang diprediksi akan berkembang sangat kuat dan berdampak luas terhadap kondisi iklim global. Situasi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi di berbagai belahan dunia.

Mengutip laporan Euronews yang dirilis pada 24 April 2026, data suhu global dari lima kelompok penelitian serta analisis lingkungan menunjukkan bahwa tahun 2026 kemungkinan akan menjadi tahun terpanas kedua yang pernah tercatat. Kenaikan suhu ini diperkirakan berlangsung sepanjang tahun, dengan intensitas yang meningkat seiring berkembangnya fenomena El Nino di Samudra Pasifik.

Analisis dari Carbon Brief pada 24 April 2026 juga mengungkapkan bahwa model iklim terbaru memperkirakan kenaikan suhu global mencapai median 2,2 derajat Celcius pada September mendatang. Kondisi tersebut mengindikasikan potensi munculnya El Nino kategori “super”, yang dikenal memiliki dampak lebih ekstrem dibandingkan siklus El Nino biasa.

Fenomena pemanasan di wilayah Pasifik tropis ini diketahui mampu memengaruhi pola cuaca global secara signifikan. Dampaknya tidak hanya berupa peningkatan suhu, tetapi juga dapat memicu kekeringan berkepanjangan, banjir di sejumlah wilayah, hingga gelombang panas laut yang mengancam ekosistem. Oleh karena itu, perkembangan El Nino tahun ini menjadi sorotan utama para ilmuwan iklim.

Lebih lanjut, Carbon Brief dalam publikasi yang sama pada 24 April 2026 menyebutkan bahwa pemanasan global diperkirakan akan semakin intens setelah bulan September. Secara historis, puncak El Nino biasanya terjadi antara November hingga Januari. Jika skenario El Nino “super” benar terjadi, maka tahun 2027 bahkan berpotensi menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat di dunia.

Di sisi lain, kemampuan memprediksi kekuatan El Nino sejak awal tahun masih menjadi tantangan bagi para ilmuwan. Namun, studi terbaru dari University of Hawaiʻi yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters pada Maret 2026 menunjukkan kemajuan signifikan. Penelitian tersebut mengklaim mampu memprediksi fenomena El Nino dan La Nina hingga 15 bulan sebelumnya dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Peneliti utama, Yuxin Wang, menjelaskan pada Maret 2026 bahwa metode prediksi dilakukan dengan menganalisis suhu serta ketinggian permukaan laut. Menurutnya, perubahan permukaan laut dapat menunjukkan akumulasi panas di Pasifik tropis yang menjadi indikator awal terbentuknya El Nino. Model tersebut saat ini memperkirakan anomali suhu lebih dari 2 derajat Celcius di wilayah Pasifik timur khatulistiwa menjelang akhir 2026.

Dengan berbagai indikator tersebut, para ilmuwan mengingatkan bahwa dunia perlu bersiap menghadapi dampak lanjutan dari fenomena ini. Kesiapsiagaan menjadi kunci, terutama dalam mengantisipasi krisis air, gangguan pangan, hingga peningkatan risiko bencana alam yang berkaitan dengan perubahan iklim ekstrem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....