Rahasia Pengobatan Leluhur Tersimpan di Naskah Kuno

  • 22 Apr 2026 22:39 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Di balik lembaran naskah tua yang mulai rapuh, tersimpan pengetahuan rinci tentang cara masyarakat masa lalu mengolah tanaman dan makanan menjadi obat. Naskah Patambaan Siliwangi yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi tidak sekadar mencatat bahan, tetapi juga teknik meracik—mulai dari ditumbuk, dihangatkan, hingga dibalurkan ke tubuh sebagai bagian dari sistem penyembuhan tradisional.

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2026 menyebut naskah ini sebagai dokumentasi pengalaman empiris masyarakat dalam pengobatan tradisional. Filolog Ilham Nurwansah menjelaskan, praktik pengobatan dalam naskah tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan kebiasaan dapur, lingkungan, serta keyakinan masyarakat. “Pengobatan dilakukan dengan tanaman, makanan, dan ramuan tertentu, disertai cara seperti dibalur, diasapi, atau diminum,” ujarnya, Senin (20 April 2026).

Metode yang paling umum adalah penggunaan daun segar yang diolah secara sederhana. Dalam naskah, daun dipetik lalu ditumbuk atau dipipis, kadang dicampur bahan lain, dan digunakan dalam kondisi hangat. Salah satu bagian menyebut, “dipipis masing anget-anget, dirupusaken ing badané”, yang menunjukkan bahwa suhu ramuan dipercaya membantu penyerapan dan mempercepat proses penyembuhan, sebagaimana diungkap dalam kajian filologi BRIN (2026).

Beragam tanaman dimanfaatkan sesuai khasiatnya. Daun sembukan digunakan untuk mengatasi perut kembung, daun sirih untuk luka, hingga daun padi yang dicampur adas untuk meredakan demam. Dalam kajian etnofarmaka yang mengulas naskah ini, disebutkan terdapat puluhan jenis tanaman obat yang digunakan masyarakat, menandakan adanya sistem pengetahuan herbal yang terstruktur dan berkembang pada masanya.

Tak hanya tanaman, naskah ini juga mencatat penggunaan bahan pangan sebagai terapi. Daging kambing atau ayam diolah menggunakan minyak wijen, kemudian dikonsumsi sekaligus digunakan sebagai baluran. Pola ini menunjukkan pendekatan ganda—internal dan eksternal—yang diyakini saling melengkapi, sebagaimana tercatat dalam isi naskah dan dianalisis dalam penelitian BRIN (2026).

Metode lain yang cukup unik adalah konsep penyembuhan yang melibatkan aspek sosial, di mana makanan seperti surabi dan nasi liwet disiapkan untuk disedekahkan. Dalam naskah tertulis “sidekahé sorabi”, yang menunjukkan bahwa praktik berbagi menjadi bagian dari proses penyembuhan masyarakat saat itu.

Meski kaya akan pengetahuan, Ilham menegaskan bahwa seluruh ramuan dalam naskah masih bersifat empiris dan perlu diuji secara ilmiah. “Perlu diteliti kandungan kimia dan efektivitasnya melalui uji laboratorium,” ujarnya (20 April 2026). Dengan demikian, Patambaan Siliwangi tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga membuka peluang pengembangan pengobatan berbasis kearifan lokal yang dapat dikaji lebih lanjut dalam dunia medis modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....