MUI Soroti Metode Pembasmian Ikan Sapu-Sapu Tidak Beretika
- 20 Apr 2026 12:07 WIB
- Bogor
Poin Utama
- Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik terhadap metode pembasmian ikan sapu-sapu yang dinilai tidak manusiawi
- Pembasmian hama tetap diperbolehkan, namun harus dilakukan dengan cara yang tidak menyiksa
- Ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu ekosistem perairan
RRI.CO.ID, Bogor- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan kritik terhadap metode pembasmian ikan sapu-sapu yang dinilai tidak manusiawi. Dalam unggahan yang beredar di media sosial, terlihat praktik penguburan ikan saat masih hidup, yang kemudian memicu reaksi publik. Isu ini bukan hanya menjadi perbincangan soal pengendalian hama, tetapi juga menyentuh aspek etika dan nilai kemanusiaan.
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menegaskan bahwa cara tersebut bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam, khususnya konsep rahmatan lil ‘alamin. Prinsip ini mengajarkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk hewan. Oleh karena itu, tindakan yang berpotensi menimbulkan penderitaan dinilai tidak sejalan dengan nilai tersebut.
Selain itu, MUI juga menyoroti pentingnya kesejahteraan hewan atau kesrawan dalam setiap tindakan manusia terhadap makhluk hidup. Dalam konteks ini, pembasmian hama tetap diperbolehkan, namun harus dilakukan dengan cara yang tidak menyiksa. Pendekatan yang beretika menjadi kunci agar manusia tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan tanggung jawab moral.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana praktik di lapangan terkadang belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek etis. Banyak pihak yang berfokus pada efektivitas pengendalian hama, namun melupakan metode yang digunakan. Padahal, cara yang digunakan bisa mencerminkan nilai kemanusiaan seseorang atau kelompok.
Di sisi lain, ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies invasif yang dapat mengganggu ekosistem perairan. Kehadirannya sering dianggap merugikan karena merusak habitat dan mengancam populasi ikan lokal. Namun demikian, penanganan terhadap spesies ini tetap harus memperhatikan prinsip-prinsip perlakuan terhadap hewan.
Informasi mengenai pernyataan MUI ini salah satunya beredar melalui unggahan akun Instagram voxpolitikid, yang menampilkan narasi serta visual praktik pembasmian tersebut. Unggahan ini kemudian memicu diskusi luas di kalangan netizen mengenai batasan antara kebutuhan praktis dan nilai etika.
Perdebatan ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap tindakan, manusia tidak hanya dituntut untuk efektif, tetapi juga bijaksana. Penanganan hama memang penting, namun cara yang digunakan harus tetap mencerminkan nilai kemanusiaan dan kepedulian terhadap makhluk hidup lain. Dengan demikian, keseimbangan antara kebutuhan dan etika dapat tetap terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....