Fenomena Quiet Quitting: Kerja Secukupnya, Hidup Lebih Tenang?

  • 27 Mar 2026 16:30 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Fenomena quiet quitting belakangan menjadi perbincangan hangat di dunia kerja, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini merujuk pada sikap karyawan yang bekerja sesuai deskripsi tugas tanpa melakukan upaya ekstra di luar tanggung jawabnya.

Tren ini mencuat di media sosial, khususnya melalui platform seperti TikTok, yang banyak menampilkan pengalaman pekerja dalam menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Alih-alih benar-benar “mengundurkan diri”, para pekerja ini memilih untuk tetap bekerja, tetapi tidak lagi mengorbankan waktu dan energi secara berlebihan.

Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan, karena banyak pekerja merasa kelelahan akibat tuntutan kerja yang tinggi. Kondisi seperti burnout atau kelelahan mental akibat pekerjaan menjadi salah satu pemicu utama munculnya sikap ini.

Selain itu, perubahan cara pandang terhadap keseimbangan hidup juga berperan besar. Generasi sekarang cenderung lebih memprioritaskan kesehatan mental, waktu bersama keluarga, serta kehidupan di luar pekerjaan dibandingkan dengan ambisi karier semata.

Di satu sisi, quiet quitting dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya kerja berlebihan atau hustle culture. Para pekerja ingin menegaskan bahwa mereka bukan sekadar “mesin produktivitas” yang harus selalu siap bekerja tanpa batas.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menuai kritik dari sebagian pihak, terutama perusahaan. Mereka khawatir bahwa sikap ini dapat menurunkan produktivitas, menghambat inovasi, serta memengaruhi dinamika kerja tim.

Meski begitu, sejumlah ahli menilai bahwa quiet quitting justru bisa menjadi sinyal bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi. Lingkungan kerja yang sehat, apresiasi yang adil, serta beban kerja yang seimbang dinilai mampu meningkatkan loyalitas dan kinerja karyawan.

Pada akhirnya, fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam dunia kerja modern. Bekerja secukupnya bukan berarti tidak profesional, melainkan upaya untuk menciptakan hidup yang lebih seimbang dan bermakna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....