Asia Tenggara Diprediksi Alami Panas Ekstrem Mulai April 2026

  • 15 Mar 2026 08:30 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor – Wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi periode suhu yang lebih panas dari biasanya dalam beberapa bulan mendatang. Prediksi tersebut disampaikan oleh ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) yang memantau kondisi iklim di kawasan Asia Tenggara.

Dalam laporan terbarunya, ASMC menyebutkan bahwa suhu udara pada periode Maret hingga Mei diperkirakan berada di atas rata-rata normal. Indonesia dan Malaysia bahkan diprediksi memiliki peluang antara 80 hingga 100 persen mengalami suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi klimatologis biasanya.

Fenomena panas ini diperkirakan akan lebih dulu dirasakan di kedua negara tersebut sebelum meluas ke sebagian besar wilayah daratan Asia Tenggara dalam beberapa bulan berikutnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat serta sektor ekonomi.

Media internasional South China Morning Post juga melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Thailand dan kawasan utara Vietnam diperkirakan akan mengalami suhu yang cukup tinggi. Sementara itu, beberapa daerah seperti Vietnam bagian tenggara, Kamboja, serta sebagian wilayah Filipina diprediksi masih berada pada kisaran suhu yang relatif normal.

Di Indonesia, kondisi musim kemarau tahun 2026 diproyeksikan datang lebih cepat di sejumlah wilayah. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan sekitar 325 Zona Musim atau sekitar 46,5 persen wilayah diperkirakan memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih cepat meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga beberapa wilayah di Papua. Kondisi ini diperkirakan akan memengaruhi ketersediaan air serta aktivitas pertanian di sejumlah daerah.

BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus, terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Oleh karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan diimbau meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, menyesuaikan pola tanam, serta memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Rekomendasi Berita