Negara-Negara Ramah terhadap Pekerja Lansia

  • 10 Feb 2026 13:15 WIB
  •  Bogor

RRI.CO.ID, Bogor - Bagi sebagian orang, masa pensiun kerap dipandang sebagai garis akhir perjalanan karier. Namun, bagi banyak lansia, berhenti bekerja bukanlah pilihan. Keinginan untuk tetap produktif, merasa berguna, dan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri tanpa bergantung pada keluarga menjadi alasan utama. Sayangnya, di Indonesia, kesempatan kerja bagi lansia—terutama di sektor formal—masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara lain yang justru membuka ruang luas bagi tenaga kerja senior. Dari Asia hingga Barat, berbagai kebijakan dan program dirancang agar warga lanjut usia tetap dapat berkontribusi sesuai kemampuan mereka.

Jepang: Lansia sebagai Tulang Punggung Produktivitas

Jepang menjadi contoh paling menonjol. Negara dengan populasi lansia tertinggi di dunia ini mencatat rekor jumlah pekerja berusia 65 tahun ke atas mencapai 8,07 juta orang pada 2018, seperti dikutip dari Forbes. Pemerintah Jepang mendorong perusahaan memberikan opsi bekerja hingga usia 70 tahun. Selain itu, keberadaan Silver Center Workshops menjadi wadah penyaluran pekerjaan ringan bagi lansia, mulai dari jasa kebersihan hingga pekerjaan komunitas.

Korea Selatan: Kerja dan Aktivitas Sosial Berjalan Beriringan

Korea Selatan mengembangkan Senior Employment and Social Activity Support Program untuk warga berusia 60 tahun ke atas. Program ini menyediakan pekerjaan ringan di sektor layanan publik, sosial, lingkungan, dan pendidikan. Tak hanya soal ekonomi, kebijakan ini juga bertujuan menjaga kesehatan mental dan keterlibatan sosial para lansia.

Jerman: Belajar Seumur Hidup demi Tetap Bekerja

Di Eropa, Jerman menunjukkan hasil signifikan lewat program Initiative 50 Plus. Program ini mendorong pelatihan ulang dan pembelajaran seumur hidup bagi lansia. Dampaknya terlihat jelas: partisipasi tenaga kerja usia 55–64 tahun meningkat tajam dalam dua dekade terakhir. Data Trading Economics mencatat, per Desember 2024, tingkat partisipasi kelompok usia tersebut mencapai 75,20%.

Singapura: Kebijakan Fleksibel di Negara Kota

Singapura juga menghadapi tantangan populasi menua. Namun, negara kota ini merespons dengan kebijakan progresif. Sejak 2022, usia pensiun dinaikkan menjadi 63 tahun dan usia bekerja kembali menjadi 68 tahun. Hasilnya, lansia masih mudah ditemui bekerja sebagai pramusaji restoran, petugas informasi stasiun, petugas kebersihan, hingga petugas keamanan. 

Selandia Baru: Partisipasi Tinggi Tenaga Kerja Senior

Laporan resmi Pemerintah Selandia Baru pada 2019 menyebutkan, sebanyak 44% warga berusia 65–69 tahun masih aktif bekerja. World Economic Forum menempatkan Selandia Baru sebagai salah satu negara dengan tingkat partisipasi tenaga kerja senior usia 65 tahun ke atas tertinggi di dunia.

Amerika Serikat: Lansia dan Tren Kerja Paruh Waktu

Di Amerika Serikat, pekerja berusia 65 tahun ke atas mencakup sekitar 19,5% dari total tenaga kerja pada 2024. Tren menunjukkan, banyak lansia memilih pekerjaan paruh waktu agar tetap memiliki waktu luang untuk aktivitas pribadi dan sosial, tanpa sepenuhnya meninggalkan dunia kerja.

Fenomena di berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa usia bukanlah batas mutlak produktivitas. Dengan kebijakan yang inklusif, pelatihan yang tepat, dan lingkungan kerja yang ramah usia, lansia dapat tetap berkontribusi bagi perekonomian sekaligus menjaga kualitas hidup mereka. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....