Guru SD Didorong Manfaatkan AI sebagai Penunjang Pembelajaran
- 22 Feb 2026 08:16 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai semakin penting dalam dunia pendidikan, termasuk di tingkat sekolah dasar. Namun, AI ditegaskan tidak boleh menggantikan peran utama guru dalam membentuk karakter peserta didik.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog Asta Cita bertema Literasi Digital di Pro 1 RRI Bogor, Selasa, 17 Februari 2026, yang menghadirkan dua guru sekaligus mahasiswa Pascasarjana Magister Pendidikan Universitas Pakuan, yakni Siti Hasanah dan Dewi Yosina.
Keduanya baru saja menyelesaikan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan fokus pada pemanfaatan teknologi digital dan AI bagi guru sekolah dasar, Madrasah Ibtidaiyah, dan pendidikan anak usia dini di wilayah Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Siti Hasanah menilai, guru perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman agar proses pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan peserta didik. Menurutnya, anak-anak saat ini tumbuh di era digital sehingga pendidik dituntut mampu menyesuaikan metode dan media pembelajaran.
“Kalau guru tidak mengikuti perkembangan teknologi digital, pembelajaran akan terasa kurang lengkap. Anak-anak sekarang semakin cerdas, gurunya juga harus terus belajar,” ujarnya.
Sementara itu, Dewi Yosina mengungkapkan AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, terutama dalam penyusunan modul ajar, bahan pembelajaran interaktif, hingga administrasi guru. Dalam pelatihan PKM tersebut, para peserta diperkenalkan pada penggunaan aplikasi digital serta teknik membuat prompt AI yang tepat guna.
“AI sangat membantu, tapi bukan untuk menggantikan peran guru. Guru tetap harus mengkaji ulang setiap materi sebelum diterapkan di kelas,” kata Dewi.
Keduanya sepakat bahwa AI hanya berfungsi sebagai penunjang. Peran guru sebagai pendidik karakter tidak dapat digantikan oleh teknologi. Menurut mereka, pendidikan dasar tetap harus menekankan sentuhan hati, keteladanan, serta nilai moral.
“AI bisa dipelajari, teknologi bisa dikuasai. Tapi membentuk karakter anak itu tidak bisa digantikan oleh mesin,” ujar Siti Hasanah.
Melalui kegiatan PKM ini, para guru peserta pelatihan juga didorong untuk menghasilkan karya nyata, seperti buku ajar dan bahan pembelajaran berbasis teknologi yang tetap berlandaskan pada riset dan referensi ilmiah. Hingga kini, tim pelaksana telah menghasilkan beberapa buku ber-ISBN sebagai luaran akademik.
Para narasumber berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri guru dalam memanfaatkan teknologi secara bijaksana, sekaligus memperkuat sinergi antara guru, orang tua, dan peserta didik dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.