Dari Kebun ke Pasar, Kiprah Perempuan Pasar Dongko
- 02 Feb 2026 23:18 WIB
- Bogor
RRI.CO.ID, Bogor – Upaya meruntuhkan sekat gender dalam ruang ekonomi terus dilakukan melalui berbagai inisiatif berbasis komunitas. Di Kota Bogor, Pasar Dongko hadir sebagai contoh nyata kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan pasar yang inklusif dan ramah lingkungan.
Pasar Dongko dikelola sepenuhnya oleh perempuan yang tergabung dalam Komunitas Salam Rancage di wilayah Gang Abdul Qodir, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Keberadaan pasar ini menunjukkan bahwa manajemen pasar tidak selalu identik dengan pendekatan keras, melainkan dapat dijalankan dengan nilai kebersamaan dan kepedulian lingkungan.
Cikal bakal Pasar Dongko berawal dari kegiatan menganyam yang dilakukan ibu-ibu sejak 2013. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi program berkebun bersama pada 2017 dengan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan permukiman warga.
Pengelola Pasar Dongko, Lilis Lismawati, menjelaskan bahwa hasil kebun yang semakin melimpah mendorong komunitas untuk membentuk pasar sebagai sarana peningkatan ekonomi.
“Awalnya hasil kebun hanya untuk konsumsi keluarga, tapi karena terlalu banyak, kami berpikir bagaimana caranya agar bisa membantu ekonomi ibu-ibu,” ujarnya dalam dialog Pengarusutamaan Gender di Pro 1 RRI Bogor pada Senin, 2 Februari 2026.
Pasar Dongko resmi berdiri pada 2019 dan berlokasi di pinggir jalan dekat jembatan tepian sungai. Pasar ini memiliki prinsip utama tanpa kemasan plastik, menggunakan bahan dari kebun sendiri, serta tidak memakai pestisida dalam proses produksi.
Hingga kini, Pasar Dongko diikuti oleh 22 perempuan dengan puluhan jenis makanan dan minuman olahan. Pasar ini hanya dibuka satu kali dalam sebulan, tepatnya pada Minggu pertama, menyesuaikan masa panen hasil kebun komunitas.
Dalam pengelolaannya, diterapkan sistem seleksi produk untuk menjaga kualitas dan konsistensi prinsip pasar. Setiap makanan yang akan dijual diperiksa terlebih dahulu sebelum dipasarkan kepada pengunjung.
Keamanan dan ketertiban pasar turut melibatkan pemuda setempat yang bertugas di area parkir. Keterlibatan ini sekaligus membuka peluang ekonomi tambahan bagi pemuda di lingkungan sekitar.
Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting keberlanjutan Pasar Dongko. Para suami ikut membantu persiapan pasar, mulai dari pengangkutan peralatan hingga mendukung aktivitas komunitas secara menyeluruh.
Meski sempat menghadapi tantangan, terutama pada penerapan sistem tanpa plastik di masa awal, Pasar Dongko tetap bertahan hingga tujuh tahun terakhir.
“Kuncinya sabar, komunikasi, dan konsisten menjalankan prinsip, supaya kampung bisa lebih maju dan dikenal,” kata Lilis.
Keberadaan Pasar Dongko diharapkan dapat menginspirasi perempuan lain untuk berani mengambil peran kepemimpinan di komunitas. Selain mendorong kemandirian ekonomi, pasar ini juga memperkuat nilai kebersamaan dan keberlanjutan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....