Penerapan Bahan Bakar B50 Perkuat Stabilitas Fiskal dan Lindungi APBN

  • 24 Sep 2026 03:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penerapan bahan bakar nabati B50 memperkuat ketahanan fiskal negara melalui pengendalian volume impor minyak solar secara terukur.
  • Efisiensi subsidi energi dari pemanfaatan biosolar berpotensi menghemat cadangan devisa nasional hingga lebih dari 150 triliun rupiah.
  • Sektor transportasi perkeretaapian mempercepat dekarbonisasi melalui operasional lokomotif berbahan bakar B50 guna mendukung keberlanjutan lingkungan hidup.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penerapan bahan bakar nabati B50 memperkuat ketahanan fiskal nasional melalui pengendalian impor minyak solar secara strategis. Substitusi minyak fosil menggunakan minyak kelapa sawit domestik terbukti menghemat pengeluaran devisa anggaran belanja negara.

Operasionalisasi bahan bakar ramah lingkungan tersebut resmi diperluas sejak hari Rabu, 1 Juli 2026 lalu. Kebijakan energi ini menjadi bantalan ekonomi yang kokoh guna melindungi kestabilan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun turut memberikan penjelasan mengenai kebijakan energi nasional. Potensi penghematan devisa negara tahunan yang dihasilkan program ini mencapai lebih dari 150 triliun rupiah.

"Pada saat mengurangi impor, maka akan berkurang juga anggaran negara yang kemudian keluar untuk melaksanakan impor. Pada saat ada penghematan anggaran negara ataupun keuangan di dalam negeri yang keluar untuk impor, maka itu akan mengurangi neraca impor Indonesia," ujar Roberth saat menjelaskan dampak efisiensi neraca impor di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.

"Kondisi terkini harga minyak dunia sudah di atas 100 dolar per barel. Which is APBN 2026 itu tidak sampai 100 dolar per barel. Gua lupa, kalau enggak salah hanya sekitar 70 sampai 80 dolar per barel," ujar Roberth.

Penurunan neraca impor secara langsung meningkatkan posisi tawar perekonomian Indonesia dalam menghadapi perdagangan global. Keberhasilan menghentikan impor solar menjaga ketahanan cadangan devisa dari tekanan pelemahan nilai tukar rupiah.

Lonjakan harga minyak mentah internasional tersebut berhasil diredam melalui penghematan alokasi anggaran subsidi bahan bakar. Sektor transportasi publik berbasis rel menjadi salah satu pelopor utama pelaksanaan efisiensi energi nasional.

Vice President (VP) Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (KAI) Anne Purba memaparkan komitmen keberlanjutan perseroan. Operator perkeretaapian terus menyelaraskan program keberlanjutan perseroan dengan target penurunan emisi lingkungan jangka panjang.

"Iya, sudah lima tahun terakhir kita sudah melakukan kerja sama itu. Jadi kalau kita tahu dari target, berbicara terkait ESG, itu tahun 2030 kita harus bisa mere-reduce sampai 30 persen. Tahun 2045 kita bisa mere-reduce eh lebih dari 40 persen, bisa sampai 50 persen, sehingga nanti di 2060 maybe kita sudah tidak ada fosil," kata Anne.

"Kalau yang B50, sejak tanggal 1 Juli, selama 60 hari, kita sudah bisa mere-reduce 9.000 sampai 10.000 emisi karbon untuk implementasi B50 aja. Tapi kan di dalam tadi teknis penghitungannya itu tidak hanya berdasarkan bahan bakar saja," ucap Anne saat memaparkan target dekarbonisasi KAI di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Konsumsi biosolar pada lokomotif kereta api memberi dampak positif terhadap pencapaian target dekarbonisasi nasional. Penurunan emisi buang perjalanan armada diesel berhasil diwujudkan tanpa mengganggu standar keandalan layanan penumpang.

Efisiensi anggaran subsidi energi dapat dialihkan untuk membiayai sektor pembangunan penting seperti pendidikan rakyat. Alokasi dana fiskal yang sehat diharapkan memperkuat daya beli masyarakat serta memacu pertumbuhan ekonomi.

Manajer Humas KAI Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo turut menegaskan kesiapan teknis armada perkeretaapian. Pemanfaatan bahan bakar nabati pada wilayah operasional ibu kota berjalan secara sangat optimal dan terukur.

"Iya, jadi udah semuanya sih. Udah semua lokomotif itu menggunakan bahan bakar B50. Juga ada delapan Kereta Api Pangrango dan juga ada keberangkatan dari Sukabumi menuju ke arah Bandung Barat. Cianjur-Bandung Barat kalau enggak salah tiga keberangkatan," kata Franoto saat menerangkan operasional armada lokomotif di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.

Operasionalisasi armada ramah lingkungan ini melayani jalur perjalanan padat penumpang menuju berbagai destinasi daerah. Rute perintis dan layanan kereta antardaerah di Jawa Barat turut berkontribusi mempercepat efisiensi subsidi.

Sistem distribusi tertutup dari kilang penyimpanan langsung ke dipo perawatan menjamin ketepatan volume pasokan. Pengawasan ketat pada fasilitas pengisian mampu meminimalisasi risiko penyusutan anggaran energi bersubsidi milik negara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....