Penerapan B50 Pangkas Puluhan Ribu Ton Emisi Karbon Kereta Api
- 24 Sep 2026 00:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memperluas penerapan bahan bakar nabati B50 pada armada kereta api demi mempercepat penurunan emisi karbon.
- PT Kereta Api Indonesia menggandeng Pertamina Patra Niaga guna mendukung swasembada energi dan efisiensi devisa negara.
- Daerah Operasi 1 Jakarta mencatatkan konsumsi biosolar sebanyak 6,5 juta liter pada puluhan lokomotif tanpa hambatan teknis.
RRI.CO.ID, Jakarta - Penerapan bahan bakar B50 sanggup memangkas puluhan ribu ton emisi karbon seluruh armada kereta api. Pemerintah resmi memperluas penggunaan bahan bakar nabati tersebut sejak hari Rabu, 1 Juli 2026 lalu.
Satu rangkaian angkutan kereta api sanggup menggantikan jejak emisi ratusan unit kendaraan pribadi jalan raya. Langkah strategis ini mempercepat target integrasi dekarbonisasi transportasi massal demi penurunan emisi gas rumah kaca.
Vice President (VP) Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (KAI) Anne Purba membenarkan percepatan tersebut. Pencatatan jejak emisi karbon pada lembar tiket kini mengedukasi masyarakat mengenai kontribusi pelestarian lingkungan hidup.
"Jadi dengan adanya target secara nasional seperti itu, akhirnya kita berkoordinasi dengan berbagai pihak, regulator. Dan juga di sini kesiapan sarananya KAI bahwa implementasi BBM ramah lingkungan ini bertahap. Jadi dari 1 Juli kemarin kita sudah mengimplementasikan B50 untuk yang namanya bahan bakar di lokomotif kita," ujar Anne Purba saat menjelaskan kesiapan sarana di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Anne menegaskan komitmen kuat perusahaannya dalam mendukung agenda besar penurunan emisi gas buang secara berkelanjutan. Generasi muda saat ini semakin antusias memilih angkutan kereta api karena alasan kepedulian iklim global.
"Kalau sudah berbicara sustainability pasti ujungnya adalah lingkungan. Jadi kalau bagi KAI, ya emisi karbon yang dihasilkan oleh perjalanan kereta itu akan semakin kecil," ucap Anne saat memaparkan dampak pelestarian alam.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun turut memberikan penjelasan mengenai kemitraan strategis ini. Pencampuran minyak nabati dilakukan langsung pada pipa terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) demi menjamin mutu.
"Pesan dari B50 ini yang pertama adalah satu, penghematan, karena ada efisiensi di dalamnya. Yang kedua, ini program B50 itu juga menyebabkan multiplier effect yang positif. Yang ketiga, ini pasti ini mendukung dari Astacita Presiden untuk mewujudkan swasembada energi, ketahanan energi," kata Roberth di Wisma Tugu, kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 22 September 2026.
Roberth menyatakan bahwa pengurangan porsi minyak fosil sanggup menekan beban anggaran belanja devisa impor solar. Potensi penghematan devisa tahunan negara melalui kebijakan energi ramah lingkungan tersebut sanggup mencapai ratusan triliun rupiah.
"Yang berubah adalah pertama, dia kemudian konsumsi BBM-nya lebih irit. Yang kedua, lebih ramah lingkungan, gitu," ujar Roberth saat menjelaskan keunggulan teknis bahan bakar nabati tersebut.
Manajer Humas Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta Franoto Wibowo memaparkan data teknis operasional armada keretanya. Distribusi pasokan bahan bakar melalui armada truk tangki menuju dipo perawatan selalu berlangsung tepat waktu.
"Pemeriksaan berkalanya sama juga sih. Ya sekarang kan udah 79 lokomotif, 49 kereta pembangkit yang di Daop 1, ya. Total sih sampai tanggal 10 September kemarin tuh total 6,5 juta liter sudah digunakan," kata Franoto Wibowo di Stasiun Cikini, Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Franoto menegaskan komitmen kuat perusahaannya untuk selalu menjaga mutu pelayanan dan keandalan armada secara konsisten. Pasokan ester asam lemak metil didatangkan melalui skema kerja sama terpadu bersama badan usaha agribisnis.
"Iya, ini tentu KAI mendukung, ya, dengan penerapan B50 sebagai penerapan energi bahan bakar yang berkelanjutan. Jadi implementasinya tentu memperhitungkan juga keandalan sarana, keselamatan perjalanan kereta api, ketepatan waktu, dan kualitas pelayanan kita juga menjadi yang utama, sih," ujar Franoto saat memaparkan standar keselamatan operasional.
Penurunan emisi karbon pada sektor perkeretaapian juga didukung oleh pemasangan instalasi pembangkit listrik tenaga surya. Integrasi seluruh sektor transportasi massal menjadi fondasi kokoh demi mencapai target nasional bebas emisi 2060.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....