IEPA Sebut Dekarbonisasi Perlu Sejalan dengan Upaya Menjaga Pertumbuhan Ekonomi

  • 05 Agt 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dekarbonisasi bukan hanya isu lingkungan tetapi juga isu ekonomi dan sosial yang menyangkut nasib jutaan masyarakat.
  • Upaya pengurangan emisi perlu berjalan seiring dengan menjaga pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan lapangan kerja.
  • IEPA menekankan bahwa dekarbonisasi harus mempertimbangkan dampak industri dan kesejahteraan masyarakat secara holistik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia ESG Professional Association (IEPA) menegaskan dekarbonisasi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga ekonomi dan sosial. Menurut IEPA, upaya pengurangan emisi perlu berjalan seiring dengan menjaga pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan lapangan kerja.

“Perlu kita ketahui bahwa dekarbonisasi bukan hanya isu lingkungan, tapi juga isu ekonomi dan sosial. Jadi kalau kita bicara dekarbonisasi, sebetulnya kita sedang berbicara nasib jutaan masyarakat, bukan hanya keuntungan industri,” kata Kepala Komisaris Indonesia ESG Professional Association (IEPA), Herry Ginanjar, dalam kegiatan penandatanganan Head of Agreement (HoA) di PT Lautan Luas Tbk., Jakarta, Selasa, 04 Agustus 2026.

Herry menjelaskan sektor industri menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional, tetapi juga merupakan penyumbang emisi karbon terbesar. Karena itu, upaya dekarbonisasi dinilai harus mempertimbangkan dampaknya terhadap dunia usaha, tenaga kerja, dan masyarakat luas.

Ia menyebut sektor industri memiliki peran besar terhadap perekonomian nasional. “Industri seperti Lautan Luas dan sejenisnya adalah tulang punggungnya ekonomi kita dan menyumbang 17,39 persen ke PDB," kata Herry.

"80 persen ekspor nasional itu berasal dari sektor ini. Selain itu juga industri ini menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja,” ucapnya.

Menurut Herry, transisi menuju industri rendah karbon perlu direncanakan secara matang agar tidak menimbulkan konsekuensi ekonomi. Transformasi yang tidak tepat berpotensi meningkatkan biaya produksi, harga barang, hingga memengaruhi daya saing ekspor nasional.

Herry juga menilai tantangan utama dekarbonisasi berasal dari lambatnya kesiapan sebagian besar perusahaan mengikuti perubahan global. Ia mencontohkan PT Lautan Luas Tbk. (LTLS) sebagai perusahaan yang mulai mempersiapkan berbagai program keberlanjutan menghadapi transisi energi.

Sementara itu, LTLS telah menerapkan berbagai inisiatif ESG selama lima tahun terakhir. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kontribusi terhadap dekarbonisasi sekaligus memperkuat daya saing perusahaan dalam jangka panjang.

“ESG itu merupakan cara Lautan Luas untuk memberikan kontribusi kembali ke Indonesia. Ini menjadi salah satu upaya untuk turut berkontribusi menjalankan program-program yang nantinya bisa membantu dekarbonisasi,” kata Head of Investor Relations, Corporate Communications & ESG Manager PT Lautan Luas Tbk., Eurike Hadijaya, dalam kesempatan yang sama.

Eurike menambahkan pengelolaan ESG yang baik telah membuka peluang mengikuti tender perusahaan multinasional. Menurutnya, penerapan ESG seharusnya dipandang sebagai investasi strategis yang mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus keberlanjutan industri. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....