KAI Gandeng BRIN Kembangkan Teknologi Keselamatan Kereta
- 29 Jul 2026 07:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KAI dan BRIN menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan teknologi perkeretaapian, termasuk Automatic Train Protection (ATP).
- Pengembangan ATP akan melalui tahapan Proof of Product sebelum diimplementasikan guna memastikan aspek teknis dan keselamatan.
- Roadmap pengembangan ditargetkan rampung pada 2027 sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan dan keandalan layanan kereta api.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan teknologi perkeretaapian. Salah satu fokus kolaborasi tersebut adalah pengembangan sistem Automatic Train Protection (ATP) guna meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dalam kegiatan BRIN Goes to Industry 5 di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat riset dan pemanfaatan teknologi di sektor transportasi nasional.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengatakan sinergi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi kunci transformasi industri Indonesia. Menurutnya, riset dan inovasi dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing industri sekaligus menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Yuliot menilai memasuki era Industri 5.0, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan harus berjalan beriringan dengan penguatan sumber daya manusia. Kolaborasi antara dunia riset dan industri juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, mengatakan keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap pengembangan teknologi yang dilakukan perusahaan. Karena itu, KAI menggandeng BRIN untuk mengkaji berbagai alternatif teknologi sebelum diterapkan di lapangan.
"Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap proses adopsi teknologi di KAI. Ini memberi ruang bagi kami untuk menguji berbagai alternatif teknologi berbasis riset sehingga memiliki landasan teknis, operasional, dan keselamatan yang kuat," ujar I Gede.
Automatic Train Protection merupakan sistem yang dirancang untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta api. Teknologi ini berfungsi mencegah kereta melewati sinyal berhenti, mengawasi kecepatan perjalanan, serta memberikan informasi operasional kepada masinis.
Menurut I Gede, pengembangan ATP memerlukan kajian dan pengujian yang matang karena harus disesuaikan dengan karakteristik operasional perkeretaapian di Indonesia. Sistem tersebut juga harus mampu terintegrasi dengan prasarana maupun perangkat yang terpasang pada lokomotif dan rangkaian kereta.
KAI dan BRIN akan menggunakan metode Proof of Product sebagai tahap awal sebelum teknologi diterapkan. Melalui pendekatan ini, kedua pihak akan menguji fungsi, integrasi, hingga kinerja sistem dalam kondisi operasional yang menyerupai layanan.
Pengujian tersebut juga bertujuan mengidentifikasi potensi risiko, kebutuhan penyesuaian, serta kesiapan regulasi dan pemeliharaan. Langkah ini dinilai penting mengingat operasional kereta api di Indonesia memiliki karakteristik yang beragam.
"Proof of Product memungkinkan teknologi dinilai dalam situasi operasional yang relevan. KAI dapat memahami sejak awal fungsi, antarmuka, kebutuhan integrasi, potensi risiko, serta kemampuan pemeliharaannya sebelum teknologi tersebut diterapkan lebih luas," kata I Gede.
Pengembangan ATP akan dilakukan secara bertahap hingga 2027. Tahapan tersebut meliputi penyusunan konsep, validasi teknologi melalui uji lapangan, hingga evaluasi aspek keselamatan sebelum diterapkan secara lebih luas.
I Gede berharap kolaborasi dengan BRIN dapat menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan operasional perkeretaapian nasional. Menurutnya, kerja sama ini juga menjadi langkah untuk membangun ekosistem inovasi yang mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan.
"Arah akhirnya adalah membangun ekosistem inovasi perkeretaapian Indonesia yang semakin mandiri, adaptif. Diharapkan mampu mendukung keselamatan dan keandalan perjalanan dalam jangka panjang," ujar I Gede.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....