KAI Commuter Mitigasi Dampak Pelecehan Seksual saat Jam Sibuk
- 22 Apr 2026 02:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KAI Commuter memperkuat penanganan dampak psikologis penyintas pelecehan melalui sosialisasi resmi di Stasiun Bank Negara Indonesia City Jakarta.
- Pendampingan profesional secara intensif diberikan untuk menjamin rasa aman dan membantu proses pelaporan hukum bagi setiap penumpang kereta.
- Tingkat kesadaran pengguna transportasi umum dalam menghadapi risiko asusila di tengah keramaian jam sibuk terus menunjukkan peningkatan positif.
RRI.CO.ID, Jakarta - Manajemen angkutan KAI Commuter berkomitmen memperkuat perlindungan bagi seluruh penumpang dari tindak kekerasan asusila. Upaya tersebut termasuk membantu memulihkan kondisi psikologis bagi para penyintas yang pernah mengalami peristiwa traumatis berat.
Vice President Corporate Secretary Kereta Api Indonesia Commuter Karina Amanda memberikan pandangan mengenai standar rasa nyaman penumpang. Pihak manajemen menempatkan faktor psikis korban sebagai landasan utama dalam mengidentifikasi adanya indikasi perilaku pelecehan yang terjadi.
"Prinsipnya kekerasan seksual atau pelecehan seksual itu kuncinya adalah rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman bagi dari sisi yang si korban gitu ya," ujar VP Karina Amanda saat sosialisasi anti kekerasan seksual di dalam KRL yang bersamaan dengan peringatan Hari Kartini Selasa, 21 April 2026.
Perusahaan transportasi tersebut menyediakan pendampingan berkelanjutan untuk memandu proses pelaporan hukum bagi pihak yang telah menjadi korban. Petugas garda depan di stasiun sudah mendapatkan pelatihan khusus demi menjamin kelancaran komunikasi selama penanganan kasus dilakukan.
"KAI Commuter ini selalu berkomitmen untuk memberikan asistensi pendampingan kepada seluruh pengguna jasa apabila mengalami kondisi kekerasan ataupun pelecehan seksual di Commuter Line. Kami juga terus memberikan sosialisasi secara berkelanjutan kepada seluruh petugas frontliners kami mengenai bagaimana penanganan terhadap kasus-kasus pelecehan ataupun kekerasan seksual," ujar Karina di Stasiun BNI City, Jakarta.
Perwakilan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Dirjo turut memberikan keterangan tentang pemulihan dampak trauma psikis korban. Komunikasi terbuka dari orang terdekat menjadi kunci sangat penting untuk mengawal penyembuhan penyintas secara sabar serta perlahan.
"Hampir 3 tahun kita kawal. Itu teman kita. Dia dapat kekerasannya pelecehan-nya itu fisik," ucap Dirjo.
Menurutnya, tingkat pemahaman seluruh pengguna jasa kereta api perkotaan Jabodetabek saat ini terlihat mengalami kenaikan yang sangat positif. Rasa berani bersuara merupakan indikator kemajuan dalam menjaga sirkulasi massa tetap aman dari gangguan aksi asusila.
"Kalau menurut kita sih ada peningkatan, dalam arti pemahaman ke teman-teman pengguna tuh semakin banyak, meningkat. Jadi tingkat kesadarannya meningkat juga," kata Dirjo.
Pengguna KRL Fauzi mengamati korelasi antara kepadatan jam sibuk dengan kemunculan tindakan menyimpang pelaku. Situasi gerbong yang sangat padat oleh penumpang sering kali memberikan celah bagi pelaku jahat untuk beraksi secara tersembunyi.
"Kalau untuk saya, juga pengguna KRL, ketika jam rush hour atau peak hour itu kepadatannya cukup memang sangat padat, di mana antara laki-laki dan perempuan pasti akan saling bersentuhan. Dan biasanya pelaku mengambil kesempatan di saat tersebut, waktu tersebut," kata Fauzi yang merupakan pegawai MRT Jakarta.
Masyarakat luas harus memiliki keberanian tinggi untuk segera melaporkan temuan segala jenis tindak kekerasan seksual di area publik. Solidaritas kolektif antar pengguna transportasi umum dapat mengikis sirkulasi massa yang berpotensi menjadi sasaran tindakan intimidasi melanggar norma.
"Sebenarnya kekerasan seksual di transportasi umum memang banyak laporan yang terjadi. Ini memang perlu kita edukasi ke para pelanggan terutama pelanggan transportasi umum untuk harus berani berbicara jika ada temuan pelecehan seksual," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....