Inovasi Puzzle Mandira Heritage Hidupkan Sejarah lewat Teknologi Interaktif
- 09 Apr 2026 12:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mandira Heritage menghadirkan puzzle edukasi berbasis Augmented Reality untuk mengenalkan sejarah candi secara interaktif.
- Produk ini meluruskan mitos pembangunan candi serta mengangkat situs kurang populer seperti Candi Banyunibo dan Candi Sukuh.
- Inovasi ini bertujuan menarik minat generasi muda agar memahami sejarah secara mendalam melalui pengalaman belajar yang interaktif.
RRI.CO.ID, Surakarta - Chief Finance Officer Mandira Heritage Stefani Adelia memperkenalkan inovasi permainan edukasi berbasis sejarah. Produk tersebut dipamerkan pada ajang Expo Campuspreneur 2026 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Stefani menjelaskan bahwa mainan miniatur candi ini sudah terintegrasi dengan teknologi kenyataan tertambah (Augmented Reality/AR). Inovasi tersebut bertujuan agar generasi muda dapat memahami narasi masa lalu secara lebih mendalam.
“Tidak benar candi disusun menggunakan putih telur. Candi yang dibangun para leluhur kita terkenal awet dan kuat karena berbagai teknik kuncian dalam pembangunannya, misalnya teknik ekor burung,” ujar Stefani di Surakarta, Senin, 6 April 2026.
Stefani menyampaikan bahwa masyarakat masih sering mempercayai mitos keliru mengenai teknik pembangunan candi. Pihaknya berupaya meluruskan informasi mengenai kecanggihan arsitektur leluhur melalui mekanisme bongkar pasang puzzle tersebut.
Pemimpin keuangan unit usaha tersebut juga menyoroti keberadaan situs-situs bersejarah yang kurang populer. Produk mereka mengangkat pesona candi kecil seperti Candi Banyunibo dan Candi Sukuh agar lebih dikenal.
“Beberapa candi di Yogyakarta memiliki potensi kuat untuk dijadikan objek wisata menarik. Namun, karena tidak sebesar Prambanan atau Borobudur, candi-candi tersebut masih kurang dikenal,” kata Stefani.
Stefani menjelaskan bahwa permainan bertajuk Mandira Bricks menjadi sarana pengenalan situs sunyi di Indonesia. Upaya ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan untuk mengunjungi destinasi sejarah selain Borobudur atau Prambanan.
Mahasiswa Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut merancang produk agar sejarah tidak lagi sekadar hafalan. Pengguna dapat merakit kepingan candi sekaligus memahami pesan moral yang tertuang pada relief bangunan asli.
“Melalui permainan ini, kami ingin anak-anak tidak hanya mengetahui bentuk candinya. Kami juga ingin mereka memahami cerita dan pesan moral di baliknya,” ujar Stefani.
Stefani menyebutkan tantangan terbesar adalah menarik minat orang yang awalnya tidak menyukai bidang arkeologi. Ia menjelaskan strategi yang digunakan adalah memberikan deskripsi singkat dan menarik mengenai lokasi serta keunikan situs sejarah.
Pihak pengelola menyisipkan narasi yang mudah dicerna pada setiap kemasan produk miniatur candi susun tersebut. Hal ini dilakukan agar keunikan arsitektur candi di lereng Gunung Lawu tetap terasa sangat menarik.
“Orang-orang yang suka sejarah, akan sangat tertarik. Kemudian, tantangan kami adalah bagaimana orang-orang yang passion-nya bukan sejarah dapat tetap melihat permainan ini menarik,” ucap Stefani.
Kegiatan Expo Campuspreneur 2026 yang diinisiasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong lahirnya wirausaha muda kreatif. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis yang mampu bersaing di pasar.
Mandira Heritage memanfaatkan fitur teknologi tiga dimensi guna menampilkan struktur bangunan candi secara interaktif. Pengunjung pameran dapat melihat visualisasi candi dari berbagai sudut melalui pemindaian perangkat ponsel pintar mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....