Hunian Vertikal Manggarai Dongkrak Ekonomi Nasional di 180 Sektor
- 16 Mar 2026 17:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah kini mulai menginisiasi pembangunan hunian vertikal di kawasan Stasiun Manggarai untuk mengatasi keterbatasan lahan perkotaan Jakarta. Pembangunan tersebut diproyeksikan mampu mendongkrak roda perekonomian nasional dengan mengintegrasikan hunian bersama moda transportasi publik yang modern.
"Nah, yang menjadi tantangan terbesar adalah selalu, pembangunan apa pun, bicara lahannya. Jadi sekali lagi tantangan utama adalah arealnya sangat terbatas, diperebutkan untuk banyak kepentingan," kata Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono saat memberikan sambutan pada kegiatan "Pencanangan Pembangunan Hunian dalam Rangka Mendukung Program 3 Juta Rumah" di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin, 16 Maret 2026.
Pemerintah menargetkan implementasi hunian tersebut agar dapat menciptakan kawasan pemukiman efisien bagi seluruh penduduk kota padat. Langkah strategis ini dilaksanakan guna mendukung standar tata kota global.
"Tapi juga ada kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi jika sektor pembangunan perumahan rakyat ini bisa kita kawal bersama-sama. Ini adalah opportunity yang benar-benar konkret ketika paling tidak ada 180 jenis industri yang akan tumbuh," ujar Agus Harimurti Yudhoyono.
Pengembangan sektor properti ini diharapkan mampu menyediakan lapangan kerja masif bagi warga setempat dan meningkatkan ekonomi. Sinergi antara infrastruktur transportasi dan hunian menjadi kunci percepatan pertumbuhan produk domestik bruto bagi seluruh masyarakat.
"KAI tentunya memiliki potensi besar untuk mengembangkan kawasan berbasiskan Transit Oriented Development atau TOD yang mendukung mobilitas perkotaan sekaligus memperluas akses hunian. Kawasan berbasis stasiun di wilayah Jabodetabek, kita itu memiliki potensi 131.000 unit hunian," kata Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin.
Pihak KAI memanfaatkan lahan seluas ratusan juta meter persegi guna mendukung program penyediaan rumah bagi masyarakat. Pemanfaatan aset lahan ini salah satunya bertujuan menekan biaya mobilitas rutin warga yang tinggal di pusat ibu kota.
"Tentunya melalui pengembangan kawasan berbasiskan stasiun ini, KAI ingin menghadirkan ekosistem kota yang lebih terintegrasi. Hunian yang dekat dengan transportasi publik, pemanfaatan lahan yang efisien, serta mobilitas yang lebih mudah bagi masyarakat perkotaan," kata Bobby Rasyidin.
Keberhasilan program ini bergantung pada penyediaan rumah layak dengan harga ekonomis bagi seluruh penduduk ekonomi rendah. Tanah milik badan usaha milik negara kini harus dioptimalkan untuk pembangunan perumahan rakyat bersubsidi luas.
"Kita bisa mendorong dan bisa mencapai delapan persen, bahkan saya yakin, bisa lebih dari delapan persen laju pertumbuhan ekonomi. So, kita dengan program perumahan, kita bisa mencapai dua-duanya ya, keadilan sosial dan juga pertumbuhan ekonomi yang cepat," kata Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo di tempat yang sama.
Penyerapan material konstruksi lokal dipercaya akan memacu aktivitas industri hulu hingga hilir secara terus menerus ke depan. Sektor perabotan rumah tangga dan instalasi kabel listrik dipastikan turut merasakan dampak positif dari proyek tersebut.
"Dan kita sudah saksikan begitu banyak pasokan-pasokan dari semen, dari mebel, dari kabel listrik, dari besi, dari kayu. Ini semuanya ada kaitan dan bisa dipasok. Kita bisa mencapai keadilan sosial sekaligus pertumbuhan ekonomi," kata Hashim Djojohadikusumo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....