Tahun 2025, Astra Catat Pendapatan Rp323,4 Triliun

  • 28 Feb 2026 07:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta — PT Astra International Tbk (ASII) mencatat pendapatan bersih sebesar Rp323,4 triliun sepanjang 2025. Capaian ini turun tipis 2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp328,5 triliun pada 2024.

Di tengah tekanan harga batu bara dan pelemahan pasar mobil nasional, perseroan tetap membukukan laba bersih Rp32,8 triliun 2025. Turun 3 persen dari Rp33,9 triliun pada tahun sebelumnya.

Presdir Astra, Djony Bunarto Tjondro, mengatakan penurunan laba dipengaruhi harga batu bara rendah serta melemahnya pasar mobil baru. Laba bersih per saham juga turun 3 persen menjadi Rp810 dari Rp837.

“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Djony dalam keterangan resmi, yang dikutip Jumat 27 Februari 2026.

Secara sektoral, divisi Otomotif dan Mobilitas masih menjadi kontributor terbesar dengan laba bersih Rp11,4 triliun, relatif stabil. Pasar mobil nasional turun 7 persen menjadi 804 ribu unit, namun pangsa pasar Astra tetap di level 51 persen.

Penjualan sepeda motor nasional naik menjadi 6,4 juta, dengan pangsa pasar PT Astra Honda Motor stabil di 78 persen. Bisnis komponen melalui Astra Otoparts mencatat kenaikan laba 18 persen menjadi Rp1,8 triliun.

Divisi Jasa Keuangan membukukan pertumbuhan laba 9 persen menjadi Rp9 triliun. Didorong peningkatan pembiayaan baru sebesar 5 persen menjadi Rp112,3 triliun.

Divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi turun 24 persen menjadi Rp9,1 triliun akibat penurunan harga batu bara. Namun, bisnis emas menjadi penopang berkat kenaikan harga jual rata-rata hingga 40 persen.

Divisi Agribisnis mencatat kenaikan laba 28 persen menjadi Rp1,2 triliun seiring kenaikan harga CPO 11 persen. Infrastruktur tumbuh 24 persen menjadi Rp1,3 triliun, sementara Teknologi Informasi meningkat 33 persen dan Properti melonjak 224 persen.

Dari sisi neraca, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7 persen menjadi Rp228,9 triliun. Nilai aset bersih per saham meningkat 8 persen menjadi Rp5.692.

Kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan tercatat Rp7,2 triliun. Utang bersih anak usaha jasa keuangan naik menjadi Rp64,9 triliun seiring ekspansi pembiayaan.

Astra mengusulkan dividen final Rp292 per saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) April 2026. Jika ditambah dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, total dividen mencapai Rp390 per saham.

Perseroan juga telah menyelesaikan program pembelian kembali saham senilai Rp2 triliun pada Januari 2026. Serta, melanjutkan tahap kedua sebesar Rp685 miliar yang rampung pada 25 Februari 2026.

“Pembelian kembali saham telah dilakukan sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan. Terkait kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan,” kata Djony.

Manajemen saat ini tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif. Terhadap portofolio bisnis yang ditargetkan rampung pada akhir semester I-2026.

“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca yang kuat. Bertujuan untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” ujar Djony.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....