Pasokan Turun, Harga Sayur di Jakabaring Melonjak
- 26 Sep 2025 14:56 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Harga sejumlah sayuran di Pasar Induk Jakabaring, Palembang, mengalami lonjakan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu keluhan dari para pedagang yang kesulitan menjual barang dagangannya, dan juga dari konsumen yang merasa anggaran belanja hariannya kian terbebani.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain wortel, kol, timun, dan buncis. Jika sebelumnya harga berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, kini melonjak hingga Rp 10.000 bahkan lebih. Di sisi lain, beberapa jenis sayuran seperti tomat kecil justru mengalami penurunan harga, sementara ada pula yang tetap stabil seperti daun bawang.
Atik, salah satu pedagang sayur di pasar tersebut, mengungkapkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh berkurangnya pasokan dari distributor serta menurunnya kualitas sayuran yang diterima. Hal ini membuatnya harus lebih selektif dalam memilih barang jualan.
“Kadang sayurnya datang dalam kondisi kurang bagus. Distribusi pun mulai berkurang. Kemungkinan karena cuaca yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan,” ujar Atik, Kamis (25/9/2025).
Ia merinci bahwa wortel dan kol yang sebelumnya dijual di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp10.000 per kilogram. Timun juga melonjak dari Rp5.000 menjadi Rp10.000 per kilogram, sedangkan buncis kini dijual di harga Rp15.000, naik dari Rp10.000. Sementara itu, tomat kecil justru turun dari Rp10.000 menjadi Rp6.000 per kilogram. Hanya daun bawang yang tetap stabil di harga Rp15.000 per kilogram.
Kondisi ini tentu tidak hanya memberatkan pedagang, tetapi juga para pembeli. Siska, seorang ibu rumah tangga yang rutin belanja di Pasar Jakabaring, mengaku cukup terkejut dengan kenaikan harga yang terjadi secara tiba-tiba.
“Harga sayur naik terus, padahal sayur itu kebutuhan pokok. Kalau naik begini, makin sulit bagi keluarga kecil untuk makan sehat setiap hari,” ungkapnya.
Siska berharap pemerintah bisa turun tangan dan mencari solusi agar harga kembali stabil. Menurutnya, jika dibiarkan terlalu lama, kenaikan harga sayur bisa berdampak pada pola konsumsi masyarakat dan memicu masalah kesehatan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, para pedagang juga khawatir daya beli masyarakat akan terus menurun jika harga tidak segera dikendalikan. Mereka berharap ada upaya dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk memperlancar distribusi sayuran dari sentra produksi ke pasar.
“Kami minta ada perhatian dari pemerintah. Jangan sampai kami pedagang kecil yang jadi korban karena pasokan macet,” tutur Atik.
Kenaikan harga sayuran ini disebut berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa minggu terakhir. Beberapa wilayah sentra produksi dilaporkan mengalami gangguan panen, sehingga suplai ke pasar tradisional menjadi terbatas.
Pedagang dan pembeli berharap adanya intervensi dari pihak terkait, baik melalui pengendalian distribusi, subsidi transportasi, maupun koordinasi dengan distributor utama. Jika tidak segera ditangani, fluktuasi harga ini dikhawatirkan akan berlangsung lebih lama dan memicu keresahan yang lebih luas di masyarakat.
(Penulis: Nursyamsa Azzahiru, Mahasiswa Magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....