Tarif Trump, Pemerintah Diharap Buka Pasar Ekspor Lain
- 11 Apr 2025 11:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat menjadi pukulan besar bagi industri yang berorientasi ekspor. Termasuk bagi industri pertekstilan, yang selama ini cukup besar mengandalkan pasar di AS.
Untuk itu, pemerintah diharapkan dapat membantu mencarikan pasar ekspor lain yang potensial. Hal ini disampaikan Ketua Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (IKATSI), Sobirin Hamid saat berbincang bersama Pro 3 RRI, Kamis (10/4/2025).
“Pemerintah harus dapat membantu membuka pasar-pasar non tradisional ekspor market yang memiliki potensi. Kedubes-kedubes kita di luar negeri harus bisa terus berkomunikasi dengan baik,” katanya.
Untuk dapat menjangkau pasar potensial lainnya, dirinya mengatakan pelaku industri tekstil harus dapat meningkatkan daya saingnya. Jika tidak, hal ini akan menyulitkan produk Indonesia untuk dapat menembus ke pasar global.
“Ke depan akan sulit (bagi industri tekstil) apalagi kalau perang dagang dimulai. Maka harus ada kreasi dan inovasi dari produsen industri tekstil dan produk tekstil (ITPT),” ujarnya.
Pengenaan tarif Trump juga sekaligus menjadi momentum untuk menggerakan masyarakat gemar berbelanja produk dalam negeri. Terkait hal ini, dirinya berharap pemerintah dapat melindungi pasar di dalam negeri.
“Sekarang bagaimana pemerintah bisa melindungi pasar dalam negeri. Bagaimana meningkatkan konsumsi produk ITPT kita di masyarakat,” katanya.
Diketahui Presiden AS, Donald Trump, mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32%. Pengenaan tarif tinggi atas produk asal Indonesia ke AS ini didasari atas penerapan tarif impor tinggi barang AS yang masuk ke Indonesia (tarif balas dendam).
Di sisi lain, AS juga menyebut izin impor ke Indonesia kompleks. Hal ini karena melibatkan banyak instansi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....