Kenaikan PPN jadi Tantangan Terbesar Ekonomi Indonesia 2025

  • 11 Des 2024 18:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Ketum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen menjadi tantangan. Terutama, terhadap perumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 mendatang.

Ia menekankan, pentingnya pemerintah mengevaluasi kebijakan fiskal demi menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Penerimaan negara bisa diperoleh tanpa harus meningkatkan PPN.

"Langkah ini lebih bijaksana untuk menjaga daya beli masyarakat. Kami berharap PPN bukan dibatalkan, namun ditunda dulu," kata Roy dalam wawancara dengan PRO3 RRI, Rabu (11/12/2024).

Roy mengingatkan, perlunya mempertimbangkan cukai tambahan seperti cukai pemanis atau plastik. Kedua jenis cukai tersebut, dinilai lebih efektif meningkatkan penerimaan tanpa membebani konsumen.

"Sektor retail sempat mengalami penurunan pertumbuhan di awal tahun 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh efek politik dan menurunnya konsumsi rumah tangga,” ucapnya.

Walaupun demikian, Roy tetap mengapresiasi upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5–5,5 persen. Ia menilai target pertumbuhan hingga 8 persen dalam lima tahun mendatang merupakan tantangan besar.

Roy menegaskan pentingnya kebijakan mendukung sektor retail agar tetap berkontribusi pada perekonomian nasional. "Sektor retail sangat penting untuk perekonomian kita dan perlu didorong agar tumbuh kembali secara positif," ujarnya. (Intern/Ahmad Rizky Pratama)

Rekomendasi Berita