Perusahaan Startup di Indonesia sedang Mengalami Tech Winter
- 17 Okt 2024 09:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Indonesia saat ini memiliki 2.647 perusahaan rintisan atau startup. Jumlah itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak keenam di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, Kanada, dan Australia.
Startup di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Perkiraan sumbangannya sekitar 4,6 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Namun, fenomena Tech Winter ternyata berpengaruh terhadap lanskap investasi di Indonesia. Tech Winter adalah musim dingin teknologi yang merujuk pada kondisi penurunan investasi dan minat dalam sektor teknologi.
Berdasarkan riset Traxcn, platform survei dan konsultan terkait startup, di Indonesia selama semester pertama tahun ini, investasi tahap benih (seed stage) turun 42 persen. Angka riilnya adalah USD45 juta atau sekitar Rp698 menjadi USD26 juta.
Kemudian pendanaan tahap awal (early stage) turun 24 persen dan dan pendanaan tahap lanjutan (later stage) turun 85 persen. Indonesia juga belum mencatatkan unicorn baru pada 2024, karena hanya ada satu startup dengan valuasi di atas USD1 miliar.
Fenomena Tech Winter tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dalam ekosistem startup seluruh dunia. Investor kini makin selektif dalam memilih startup untuk diinvestasikan, salah satunya lebih menekankan profitabilitas dan cashflow berkelanjutan.
Mantan Menteri Kominfo, Rudiantara, menjelaskan sebelumnya investor berfokus pada pertumbuhan. Namun, sekarang fokus investor adalah profitabilitas, EBITDA positif, dan cashflow berkelanjutan.
Hal ini menyebabkan banyak startup yang kesulitan mendapatkan pendanaan. Padahal ada kebutuhan yang tinggi untuk modal.
Fenomena Tech Winter ini membuat Bank Danamon bersama MUFG Innovation Partners, meluncurkan MUIP Garuda Fund. Tujuannya adalah dana ventura (usaha) yang ditujukan buat investasi di berbagai startup Indonesia.
Dengan total dana USD100 juta, MUIP Garuda Fund berfokus pada startup tahap Seri A dan Seri B. Nilai investasinya berkisar USD5 juta hingga USD10 juta.
Pendanaan ini bertujuan untuk memperkuat startup di Indonesia. Selain itu juga memperluas ekosistem kolaborasi digital antara beragam startup, Danamon, dan Adira Finance.
Salah satu startup yang mendapatkan pendanaan dari MUIP Garuda Fund adalah Qoala pada kuartal empat 2023. Itu adalah perusahaan ‘insurtech’ yang menyediakan solusi asuransi yang mudah diakses melalui platform digital terintegrasi.
"Melalui MUIP Garuda Fund, kami meningkatkan platform digital dan memperkaya variasi solusi finansial. Ini sejalan dengan komitmen kami menjadi mitra keuangan terpercaya yang senantiasa berorientasi terhadap kebutuhan nasabah," ujar Jin Yoshida, Global Alliance Strategic Director Bank Danamon.
Danamon juga mendukung kebutuhan transaksi digital para pengusaha startup. Caranya dengan menghadirkan berbagai produk unggulan, seperti QR Danamon dan Direct Debit Danamon.
Andreas Kurniawan, Chief Digital Bank Danamon, menyatakan produk digital ini adalah jawaban atas kebutuhan pengusaha startup. Kebutuhan itu untuk mengembangkan bisnis dengan lebih efisien.
"Kami menghadirkan solusi pembayaran digital yang terintegrasi melalui API, sejalan dengan tren perkembangan teknologi yang sangat pesat. Dengan QR Danamon dan Direct Debit Danamon, kami berharap dapat memfasilitasi pertumbuhan bisnis secara optimal, sehingga mereka mampu mengatasi tantangan Tech Winter," ujar Andreas.