Mengenal Tradisi Mubeng Beteng Yogyakarta: Membaca Diri dalam Diam

  • 30 Jun 2026 14:55 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Tepat ketika jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB, atmosfer di sekitar Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) mendadak berubah. Riuh rendah obrolan ribuan manusia yang memadati pelataran seketika surut, digantikan oleh kesunyian yang magis.

Udara malam Yogyakarta yang dingin seolah menahan napas saat dentang lonceng sakral Keraton Yogyakarta berbunyi sebanyak 12 kali. Setiap ketukan besi lonceng itu bukan sekadar penanda waktu, ia adalah sebuah karomah penjemput momentum spiritual.

Bersamaan dengan redamnya dentang terakhir, sebuah gelombang manusia mulai bergerak perlahan. Tanpa komando suara, tanpa sorak-sorai, ribuan langkah kaki melangkah serentak mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta.

Lampah Budaya Mubeng Beteng telah dimulai, sebuah tradisi tahunan menyambut 1 Sura. Tradisi ini yang bukan lagi sekadar ritual kalender, melainkan sebuah perjalanan batin kolektif untuk merefleksikan diri dan memohon keberkahan di Tahun Baru Jawa Be 1960.

Malam itu, Selasa menuju Rabu sejarah kembali berulang dalam balutan kesederhanaan yang megah. Ribuan masyarakat dari berbagai strata sosial melebur menjadi satu kesatuan yang utuh.

Tidak ada sekat pangkat, tidak ada pembeda jabatan. Di bawah langit malam Yogyakarta, semua berjalan dengan kepala tertunduk, membawa beban doa dan harapan masing-masing ke hadapan Gusti Ingkang Akarya Jagad (Tuhan Yang Maha Esa).

Kegiatan yang bertajuk Hajad Kawula Dalem ini diinisiasi secara mandiri oleh Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta yang bahu-membahu bersama masyarakat luas. Ini adalah bukti nyata dari konsep Manunggal Karsa penyatuan kehendak antara pihak Keraton sebagai pilar kebudayaan dan rakyat sebagai penjaga nyala apinya.

Romantisme Bangsal Pancaniti dan Kidung Doa Macapat

Sebelum ribuan pasang kaki menapaki jalanan aspal sejauh lima kilometer, nuansa perenungan batin sebetulnya telah dibangun sejak pukul 21.00 WIB. Pusat perhatian tertuju pada Bangsal Pancaniti, sebuah sudut sakral di dalam kompleks Keben yang malam itu menjadi hulu dari segala doa.

Di bawah temaram lampu khas Keraton, para Abdi Dalem melantunkan bait-bait macapat. Suara cengkok Jawa yang meliuk-liuk memecah keheningan malam, menghadirkan kidung-kidung kuno yang sarat akan petuah hidup, permohonan ampunan, serta harapan akan hari esok yang lebih baik.

Pembacaan macapat ini bertindak sebagai jembatan spiritual. Macapat ini mengondisikan batin para peserta agar benar-benar siap memasuki fase tapa bisu (bertapa dalam diam).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....