Desa Wisata Batur Pelopori Desa Wisata Karbon
- 27 Jun 2026 19:16 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan- Di tengah berkembangnya berbagai konsep desa wisata berbasis budaya, alam, dan pertanian, Desa Wisata Batur Berdikari (Dewi Batari) di Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, mulai memperkenalkan konsep yang masih terbilang baru di Indonesia, yakni desa wisata karbon.
Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata, konsep desa wisata karbon merupakan pengembangan destinasi yang tidak hanya berfokus pada kunjungan wisata. Tetapi juga pada upaya pengurangan emisi karbon, pelestarian lingkungan, serta penciptaan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Dalam praktiknya, desa wisata karbon dapat dikembangkan melalui kegiatan konservasi hutan, penanaman pohon, pelestarian tanaman langka, pengelolaan sampah berkelanjutan, penggunaan energi ramah lingkungan, hingga edukasi lingkungan bagi wisatawan. Desa Wisata Betari menawarkan paket untuk adopsi pohon dan anggrek bagi wisatawan.
Konsep desa wisata karbon berkaitan erat dengan jejak karbon (carbon footprint), yaitu jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti transportasi, konsumsi energi, dan kegiatan ekonomi lainnya. Melalui berbagai program konservasi dan pelestarian lingkungan, desa wisata berpotensi membantu menyerap emisi karbon sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui skema ekonomi hijau dan perdagangan karbon (carbon trading).
Perjalanan Desa Wisata Batur Berdikari berakar dari kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekonomi warga. Desa ini awalnya berkembang melalui kerja sama masyarakat dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam program penangkaran dan penyelamatan tumbuhan langka Indonesia.
Selain faktor lingkungan, pengembangan desa wisata juga dilatarbelakangi keprihatinan terhadap ketergantungan masyarakat pada aktivitas penambangan pasir yang dinilai tidak berkelanjutan. Desa wisata kemudian dipersiapkan sebagai alternatif sumber mata pencaharian jangka panjang bagi warga.
Saat ini, Dewi Batari mengembangkan berbagai kegiatan konservasi anggrek sekaligus menawarkan wisata budaya seperti jemparingan, bregada, macapat, dan kesenian sruntul. Melalui pengembangan konsep desa wisata karbon, Dewi Batari berharap tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pembangunan pariwisata yang berkelanjutan
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....