Murree: Jejak 'Little England' yang Tetap Abadi di Pegunungan Pakistan

  • 26 Apr 2026 18:04 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Di tengah kepulan kabut dan rimbunnya hutan pinus Pegunungan Pir Panjal, berdiri sebuah kota yang seolah menjadi portal waktu menuju masa lalu. Murree, yang dulunya merupakan stasiun bukit (hill station) favorit para pejabat Britania pada abad ke-19, kini tetap menjadi destinasi wisata utama yang memadukan arsitektur kolonial dengan geliat modernitas Pakistan.

Warisan Arsitektur yang Memukau

Didirikan pada tahun 1851 sebagai sanatorium bagi tentara Inggris, Murree segera berkembang menjadi pusat administrasi musim panas bagi Pemerintah Punjab sebelum dipindahkan ke Simla. Hingga hari ini, sisa-sisa kejayaan era kolonial masih berdiri kokoh:

  • Mall Road: Jantung kota yang legendaris, tempat di mana bangunan-bangunan beratap merah khas Victoria masih berjajar.
  • Gereja Holy Trinity: Dibangun pada tahun 1857, gereja ini tetap menjadi ikon arsitektur gotik yang mempesona dengan kaca patri yang masih asli.
  • Pindi Point & Kashmir Point: Lokasi di mana para bangsawan Inggris dulu menikmati pemandangan Himalaya sambil melepas penat dari panasnya dataran rendah Punjab.
Daya Tarik "The Queen of Hills"

Dijuluki sebagai Malika-e-Kohsar (Ratu Perbukitan), Murree menawarkan suasana yang kontras dengan kota-kota besar Pakistan yang padat. Wisatawan kini tidak hanya datang untuk sejarahnya, tetapi juga untuk:

  1. Kereta Gantung Patriata: Menawarkan pemandangan panorama hutan dari ketinggian.
  2. Kawasan Hutan Lindung: Habitat bagi monyet-monyet rhesus yang sering menyapa para pengunjung di pinggir jalan.
  3. Wisata Kuliner: Perpaduan antara kedai teh tradisional Pakistan dengan kafe-kafe bergaya Barat yang tetap mempertahankan nuansa klasik.
Tantangan di Tengah Popularitas

Meski pesonanya tak memudar, Murree menghadapi tantangan besar terkait over-tourism. Pada musim dingin, kota ini seringkali tertutup salju tebal yang menarik jutaan pengunjung, namun infrastruktur peninggalan kolonialnya harus berjuang keras menampung beban tersebut. Pemerintah setempat terus berupaya melakukan konservasi bangunan bersejarah agar identitas "Little England" ini tidak hilang ditelan pembangunan hotel modern.

Murree bukan sekadar tempat wisata; ia adalah monumen sejarah yang hidup. Menelusuri jalanannya seperti membaca kembali lembaran sejarah panjang antara Asia Selatan dan Britania Raya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....