Penggunaan Bioflok pada Budidaya Ikan Nila

  • 30 Sep 2026 07:20 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Teknologi bioflok memanfaatkan gumpalan mikroorganisme pengurai untuk mengolah limbah pakan dan kotoran dalam kolam budidaya ikan. Metode ini terbukti mampu menjaga kualitas air tetap stabil tanpa perlu sering mengganti air kolam secara berkala.

Mikroba dalam bioflok juga berfungsi sebagai pakan tambahan bernutrisi tinggi bagi ikan nila yang dipelihara. Keberadaan gumpalan organik ini secara langsung menekan rasio konversi pakan sehingga biaya operasional dapat dihemat.

Pengukuran kadar oksigen terlarut, pH air, serta konsentrasi amonia dilakukan setiap hari untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kolam. Aerasi yang kuat diperlukan agar mikroba aerob dalam bioflok tetap hidup dan menjalankan fungsi penguraian.

Data mengenai pertumbuhan ikan pada sistem bioflok ini dipublikasikan oleh Bayu Nugraha dalam jurnal ilmiah berjudul Evaluasi Pertumbuhan Ikan Nila Pada Sistem Budidaya Bioflok yang terbit pada tahun 2020. Peneliti melaporkan bahwa kelangsungan hidup ikan nila mencapai 92% dengan laju pertumbuhan relatif cepat.

Selain pertumbuhan ikan, kestabilan kepadatan flok dalam air kolam juga perlu dijaga dengan penambahan molase sebagai sumber karbon hara. Penambahan karbon secara teratur mencegah dominasi bakteri merugikan di dalam lingkungan air budidaya.

Kajian mengenai rasio pemberian karbon organik ini dipaparkan oleh Fitriani Utami dalam karya ilmiah berjudul Pengaruh Pemberian Molase Terhadap Pembentukan Bioflok Kolam Nila yang terbit pada tahun 2022. Penelitian menyimpulkan bahwa rasio karbon dan nitrogen sebesar 15 banding 1 memberikan pembentukan flok paling stabil.

Penerapan budidaya sistem bioflok sangat cocok dikembangkan pada lahan terbatas karena memiliki tingkat kepadatan tebar yang tinggi. Efisiensi penggunaan air dan pakan menjadikan teknologi ini sangat prospektif untuk mendukung usaha perikanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....