Memahami Fenomena FOMO dan Tips Mengendalikannya

  • 23 Agt 2026 12:32 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Istilah FOMO atau Fear of Missing Out kini banyak ditemukan dalam berbagai percakapan di ruang digital dan platform sosial. Ungkapan tersebut kerap dipakai untuk menggambarkan individu yang sedang berpartisipasi dalam suatu tren atau kegiatan baru.

Secara harfiah, akronim ini merepresentasikan kecemasan emosional akibat ketakutan ketinggalan dari arus informasi populer di dunia maya. Fenomena psikologis tersebut biasanya muncul saat seseorang mengamati aktivitas seru rekan sebaya melalui gawai mereka.

Berdasarkan penjelasan Brain Academy, FOMO menggambarkan perasaan khawatir atau takut tertinggal tren, informasi, maupun pengalaman orang lain. Perasaan cemas ini umumnya muncul setelah seseorang melihat unggahan di media sosial yang tampak jauh lebih menarik serta menyenangkan.

Dampak FOMO bisa berupa kecenderungan membandingkan pencapaian pribadi secara tidak sehat dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Akibat akumulasi kebiasaan tersebut, timbul rasa ketidakpuasan mendalam terhadap realitas hidup yang sedang dijalani.

Apabila dibiarkan tanpa manajemen diri yang tepat, kondisi ini berpotensi merusak stabilitas kesehatan mental seseorang. Stres kronis, penurunan tingkat kepercayaan diri, hingga kegelisahan akut merupakan ancaman nyata yang kerap menyertai.

Selain itu, penurunan tingkat fokus dalam beraktivitas sehari-hari juga sering dialami oleh mereka yang terobsesi pada tren. Guna mengatasi masalah ini, pembatasan durasi akses terhadap berbagai platform digital menjadi langkah preventif yang krusial.

Jika mulai merasa kecanduan media sosial atau takut ketinggalan tren, terdapat beberapa tips mengatasi FOMO yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan RI. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah membatasi waktu penggunaan perangkat dengan membuat jadwal khusus.

Cobalah Mengalihkan waktu luang untuk kegiatan positif seperti berolahraga atau membaca dapat membantu mengurangi ketergantungan pada gawai. Selain itu, meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga secara langsung jauh lebih efektif dalam meregulasi emosi.

Interaksi di dunia nyata terbukti mampu mengurangi kecemasan serta membuat seseorang merasa lebih bahagia dibandingkan memantau media sosial. Terakhir, hargailah diri sendiri dengan cara mencintai segala kelebihan maupun kekurangan tanpa harus mencari pengakuan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....