Mengenal Istilah Snackpacking yang Familiar di Gen Z
- 30 Jul 2026 22:16 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan- Dalam beberapa tahun terakhir, pola berwisata di Indonesia mengalami perubahan yang cukup menarik. Jika dulu wisata identik dengan kunjungan ke destinasi populer seperti pantai, gunung, atau pusat kota, kini muncul tren baru yang semakin digemari terutama oleh generasi muda, yakni snackpacking. Istilah ini merujuk pada aktivitas berwisata sambil menjelajahi jajanan lokal, khususnya di pasar tradisional, sebagai tujuan utama perjalanan.
Dari laman Kementerian Pariwisata menyatakan bahwa, Snackpacking bukan sekadar “cari makan”, tetapi sebuah pengalaman budaya yang menyeluruh. Gen Z melihat pasar bukan hanya tempat transaksi, tetapi ruang hidup yang menyimpan cerita, interaksi sosial, dan identitas kuliner daerah. Melalui snackpacking, mereka merasa lebih dekat dengan masyarakat lokal, lebih autentik dalam menikmati kota, dan lebih bebas menentukan rute perjalanan sesuai selera.
Artikel ini mengulas tren snackpacking di berbagai penjuru Indonesia— dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Artikel ini juga mengulas fenomena snackpacking menjadi peluang baru bagi sektor pariwisata.
Mengapa Snackpacking Menjadi Tren?
Ada beberapa alasan mengapa snackpacking begitu cepat diterima oleh Gen Z:
1. Pengalaman Autentik
Gen Z cenderung mencari pengalaman yang “real”, bukan sekadar foto-foto destinasi mainstream. Pasar tradisional menawarkan interaksi langsung dengan pedagang, aroma khas, dan suasana yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
2. Biaya Terjangkau
Snackpacking relatif murah. Dengan modal Rp50.000–Rp100.000, wisatawan bisa mencicipi banyak jenis jajanan lokal tanpa menguras kantong.
3. Konten Media Sosial
Jajanan unik, warna-warni pasar, dan interaksi spontan dengan pedagang menjadi konten menarik untuk TikTok, Instagram, dan YouTube. Tren ini mendorong semakin banyak anak muda mencoba snackpacking.
4. Dukungan Tren Kuliner Lokal
Gerakan “bangga buatan Indonesia” dan meningkatnya minat terhadap kuliner daerah membuat snackpacking semakin relevan. Di Palembang, Pasar 16 Ilir menjadi salah satu tujuan yang menarik untuk dijelajahi karena suasananya sangat mencerminkan denyut kehidupan kota tepian Sungai Musi.
Pasar ini ramai sejak pagi, dipenuhi suara pedagang menawarkan dagangan, pembeli yang lalu-lalang, serta aroma makanan khas Palembang yang menggoda dari berbagai sudut. Lorong-lorong pasarnya terasa hidup, dengan deretan kios yang menjual kebutuhan harian, pakaian, kain, aksesori, hingga jajanan tradisional. Bagi snackpacker, pengalaman berjalan di pasar ini bukan hanya soal mencicipi makanan, tetapi juga merasakan atmosfer Palembang yang hangat, sibuk, dan penuh warna.
Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Palembang tanpa mencoba pempek kapal selam mini, kue maksuba, dan lapis kojo yang banyak dijumpai di sekitar pasar. Selain itu, wisatawan juga bisa menemukan aneka kerupuk dan kemplang khas Palembang, tekwan, model, serta jajanan manis yang cocok dijadikan oleh-oleh.
Beberapa pedagang biasanya menata dagangan mereka dalam tampilan sederhana namun menggugah selera, sehingga kamu dapat langsung memilih, mencicipi, lalu membawa pulang makanan favoritnya. Letaknya yang dekat dengan Sungai Musi juga membuat pengalaman snackpacking semakin lengkap, karena setelah berburu jajanan, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menikmati suasana sungai dan melihat sisi historis kota Palembang dari dekat.
Pasar Santa
Pasar Santa dikenal sebagai salah satu pasar yang dekat dengan budaya anak muda Jakarta. Berbeda dari bayangan pasar tradisional yang hanya dipenuhi kios kebutuhan harian, Pasar Santa memiliki karakter yang lebih kreatif, santai, dan eksperimental.
Di dalamnya, suasana pasar terasa seperti ruang pertemuan antara kehidupan lokal, komunitas kreatif, dan gaya hidup urban. Kamu bisa berjalan melewati lorong-lorong kios kecil yang menjual makanan, minuman, barang koleksi, hingga produk buatan komunitas lokal. Suasananya tidak selalu megah, tetapi justru menarik karena terasa apa adanya, kasual, dan penuh kejutan.
Bagi snackpacker, Pasar Santa cocok menjadi tempat berburu jajanan yang ringan, unik, dan tetap terjangkau. Di sini, Kamu dapat menemukan kopi hitam dari kedai kecil, kue cubit aneka topping, camilan kekinian, hingga makanan berat dengan sentuhan kreatif seperti pasta yang dipadukan dengan bumbu khas Indonesia.
Beberapa kios juga menawarkan menu sederhana yang dikemas dengan gaya modern, sehingga menarik bagi Gen Z yang suka mencoba rasa baru sekaligus mencari konten kuliner yang berbeda dari biasanya. Selain makanan, daya tarik Pasar Santa juga ada pada berbagai barang unik yang bisa ditemukan di beberapa sudutnya.
Kamu dapat menjumpai kios yang menjual vinil, buku, majalah lama, aksesori, produk lokal, hingga pernak-pernik kreatif yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan biasa. Karena itu, aktivitas snackpacking di Pasar Santa tidak hanya berhenti pada mencicipi jajanan, tetapi juga menjadi pengalaman menjelajah budaya populer Jakarta. Sambil menikmati makanan, Kamu bisa melihat bagaimana pasar tradisional beradaptasi menjadi ruang kreatif yang tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kota.
Pasar Apung
Snackpacking di Pasar Terapung Lok Baintan menawarkan pengalaman yang benar-benar berbeda karena aktivitas jual beli berlangsung di atas sungai. Sejak pagi hari, perahu-perahu kecil milik pedagang mulai berkumpul membawa aneka dagangan, menciptakan suasana pasar yang bergerak mengikuti arus air.
Kamu tidak berjalan menyusuri lorong kios seperti di pasar darat, melainkan menyaksikan transaksi dari perahu ke perahu. Pemandangan ini membuat Lok Baintan terasa khas, tradisional, dan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Banjar yang sejak lama menjadikan sungai sebagai ruang aktivitas sehari-hari.
Di pasar terapung ini, wisatawan dapat menemukan berbagai makanan dan jajanan khas Kalimantan Selatan. Beberapa yang menarik untuk dicoba antara lain kue bingka yang manis dan lembut, lontong orari dengan kuah khas Banjar yang gurih, serta kue apam Barabai yang dikenal sebagai jajanan tradisional populer.
Selain itu, pedagang juga sering membawa buah-buahan segar, sayuran, kue basah, makanan ringan, hingga hasil kebun dari daerah sekitar. Semuanya ditata sederhana di atas perahu, sehingga pengalaman memilih jajanan terasa lebih dekat, spontan, dan autentik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....