Dampak Kemarau di Kaur, Warga Mulai Andalkan Sungai untuk Mandi dan Cuci
- 24 Jul 2026 12:00 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan - Dampak musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan oleh masyarakat. Dampak yang mulai muncul antara lain krisis air bersih, gagal panen, serta peningkatan suhu dingin pada malam hari.
Berdasarkan informasi yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 diperkirakan mulai berakhir secara bertahap pada akhir Agustus. BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan biasanya akibat penguatan fenomena El Nino.
Warga di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu, seperti Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma, dan sejumlah kabupaten lainnya, mulai mengalami penurunan debit air sumur secara drastis, bahkan sebagian di antaranya telah mengering total. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat harus mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di Kabupaten Kaur, beberapa wilayah mulai mengalami krisis air sumur akibat musim kemarau, di antaranya di Kecamatan Tanjung Kemuning, Desa Padang Leban, dan sekitarnya. Banyak warga memanfaatkan aliran Sungai Padang Guci untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci.
Yefi Niarti, salah seorang warga Desa Padang Leban,Kecamatan Tanjung Kemuning, mengaku turut memanfaatkan aliran Sungai Padang Guci untuk mandi dan mencuci karena debit air sumur di rumahnya mulai menyusut. “Kami mandi dan mencuci ke Sungai Padang Guci, demi menghemat air di sumur. Tapi kalau untuk keperluan masak, makan dan minum, sumur kami masih cukup,” tutur Yefi, Kamis, 22 Juli 2026.
Menurut Yefi, warga juga banyak memanfaatkan sumur bor milik desa untuk keperluan memasak, sedangkan untuk mencuci mereka lebih memilih menggunakan air sungai. “Sungai Padang Guci besar alirannya deras, jadi masih bersih , masyarakat ramai ,emanfaatkannya untuk mandi dan cucu pada pagi dan sore, bahkan banyak warga dari desa lain sengaja dating ke sungai Padang Guci untuk mencucu dan mandi ,” tutur Yefi.
Yefi menambahkan, tidak hanya krisis air bersih yang mulai dirasakan masyarakat, tetapi aktvitas bercocok tanam juga mulai terdampak akibat musim kemarau. Ia berharap hujan segera turun agar kehidupan masyarakat kembali berjalan normal serta aktivitas bercocok tanam dapat dilakukan kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....