Kirain Nama Bumbu, ternyata 'Mustofa' Itu Nama Koki Kesayangan Bung Karno!

  • 22 Jun 2026 20:29 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Bagi masyarakat Indonesia, lauk kering kentang berbentuk korek api dengan lumuran bumbu balado pedas-manis bukanlah makanan yang asing. Hidangan praktis yang dikenal dengan nama Kentang Mustofa ini hampir selalu hadir di berbagai momen, mulai dari pelengkap nasi uduk, hidangan hajatan, hingga menjadi lauk "penyelamat" saat sahur di bulan Ramadan.

Namun, di balik popularitas dan kelezatannya yang merakyat, siapa sangka jika menu sederhana ini memiliki benang merah sejarah yang kuat dengan Istana Kepresidenan dan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno.

Bermula dari Dapur Istana Cipanas

Berdasarkan catatan sejarah kuliner Nusantara, nama "Mustofa" bukan sekadar sebutan tanpa makna atau merujuk pada kuliner Timur Tengah. Nama tersebut diambil dari sosok Opo Mustofa, seorang koki atau juru masak resmi yang bertugas di dapur Istana Kepresidenan Cipanas, Bogor, Jawa Barat pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Kisah lahirnya menu ini sebenarnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan dan prinsip meminimalkan sampah makanan (food waste). Sebagai seorang koki istana yang kreatif dan inovatif, Opo Mustofa menyayangkan jika sisa-sisa kentang dari bahan masakan utama terbuang percuma.

Ia kemudian mengumpulkan sisa kentang tersebut, mengirisnya dengan sangat tipis hingga menyerupai korek api, lalu menggorengnya sampai benar-benar kering dan renyah. Agar rasanya menggugah selera, irisan kentang garing itu dicampur dengan racikan bumbu sambal balado khas Indonesia yang manis, gurih, dan pedas.

"Mana Kentang Mustofa?"

Hasil eksperimen dapur Opo Mustofa ternyata mendapat tempat istimewa di lidah Bung Karno. Sang Proklamator sangat menyukai tekstur garing dan cita rasa pedas-manis dari olahan tersebut, hingga menjadikannya lauk wajib yang harus selalu ada di meja makan setiap kali ia hendak bersantap.

Nama "Kentang Mustofa" sendiri diyakini lahir secara spontan dari ucapan Bung Karno. Dikisahkan pada suatu hari, hidangan kentang kering balado tersebut absen atau lupa disajikan di meja makan istana. Merasa ada yang kurang dari menunya, Bung Karno langsung melayangkan pertanyaan kepada pelayan istana:

"Mengapa tidak ada kentang Mustofa di meja makan?" atau dalam versi lain, "Mana kentang Mustofa?"

Pertanyaan spontan dari Presiden Sukarno yang merujuk langsung pada nama sang koki inilah yang akhirnya melekat kuat. Sejak peristiwa tersebut, seluruh penghuni dan staf istana mulai menyebut menu kering kentang balado itu sebagai "Kentang Mustofa" untuk menghormati kreativitas Opo Mustofa.

Menjadi Warisan Kuliner Nusantara

Seiring berjalannya waktu, resep yang lahir dari dapur istana ini mulai menyebar luas ke luar tembok keraton. Kemudahan dalam proses pembuatan, daya simpannya yang tahan lama tanpa bahan pengawet, serta kecocokan rasanya dengan lidah masyarakat Indonesia membuat Kentang Mustofa cepat populer.

Kini, hidangan yang awalnya merupakan makanan pemanfaatan sisa dapur di Istana Cipanas tersebut telah bertransformasi menjadi "raja lauk kering" yang dapat dengan mudah ditemukan di warung tegal (warteg), katering pernikahan, hingga diproduksi secara massal sebagai ide bisnis rumahan yang menjanjikan di berbagai pelosok negeri.

Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia: Artikel ensiklopedia mengenai Kentang Mustofa yang mencatat sejarah kuliner dan peran Opo Mustofa sebagai juru masak Istana Kepresidenan era Soekarno.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....