Bukan Peduli! Ini Alasan Kenapa Ucapan 'Sabar Ya' Malah Bikin Korban Makin Tertekan

  • 05 Agt 2026 18:53 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu - Ucapan "sabar ya" acap kali terlontar secara spontan saat seseorang berniat memberikan dukungan kepada kerabat yang sedang tertimpa musibah. Namun, kalimat penyemangat klise tersebut justru sering kali dinilai tidak efektif dan malah memperburuk beban emosional sang korban.

Sebagian besar penerima ucapan merasa bahwa kata tersebut seolah menuntut mereka untuk meredam rasa sedih secara instan tanpa diberi ruang untuk meluapkan emosi. Alih-alih merasa didengar, korban justru menangkap impresi bahwa lawan bicaranya ingin mengakhiri percakapan dengan cepat.

Bentuk Toxic Positivity dan Penolakan Emosi

Pakar psikologi menyebut kebiasaan ini sebagai salah satu bentuk toxic positivity yang memaksa seseorang untuk selalu berpandangan positif di tengah kondisi sulit. Sikap tersebut secara tidak langsung menolak realitas rasa sakit yang nyata-nyata sedang dialami oleh seseorang.

Dorongan untuk bersabar secara terus-menerus sering kali memperkuat perasaan terisolasi pada diri korban. Mereka akhirnya memilih untuk memendam masalahnya sendiri daripada kembali mendapatkan tanggapan yang terasa hampa dan tidak merangkul.

Dampak Psikologis dan Fenomena Empathetic Strain

Fenomena ini erat kaitannya dengan kelelahan berempati di mana orang lain hanya sanggup memberikan respons di permukaan saja. Ketiadaan keterlibatan emosional secara mendalam membuat bantuan yang ditawarkan terasa sangat dingin serta berjarak.

Pada dasarnya, korban yang sedang berduka atau tertimpa masalah lebih membutuhkan kehadiran serta telinga yang siap mendengarkan tanpa menghakimi. Pertanyaan terbuka mengenai keadaannya jauh lebih bermakna dibandingkan serangkaian nasihat yang terkesan menggurui.

Mengganti kalimat "sabar ya" dengan pernyataan siap mendampingi dapat memberikan dampak psikologis yang jauh lebih menenangkan bagi penerimanya. Keberanian untuk hadir secara utuh di masa-masa sulit adalah wujud nyata dari empati sejati yang sesungguhnya.

Sumber

  1. Brown, B. (2018). Dare to Lead: Brave Work. Tough Conversations. Whole Hearts. Random House. (Menjelaskan bagaimana respons berbasis nasihat instan seperti simpati dangkal memutus koneksi emosional, berbeda dengan empati yang membutuhkan validasi perasaan).
  2. David, S. (2016). Emotional Agility: Get Unstuck, Embrace Change, and Thrive in Work and Life. Avery Publishing. (Membahas bahaya penolakan emosi negatif atau "toxic positivity" yang memaksa orang untuk langsung merasa tenang atau sabar).
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....