Pentingnya Mengontrol Asupan Nutrisi saat Puasa Ramadhan agar Tubuh Tetap Sehat
- 28 Feb 2026 07:58 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan - Menjalankan ibadah puasa Ramadhan menuntut tubuh untuk melakukan serangkaian proses adaptasi yang signifikan. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mendapatkan asupan makanan maupun minuman selama kurang lebih 12 jam di siang hari.
Perubahan pola hidup selama bulan suci ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga waktu istirahat. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan lebih memperhatikan asupan nutrisi yang tepat guna menjaga kesehatan tetap optimal.
Pentingnya menjaga keseimbangan asupan saat sahur dan berbuka menjadi kunci utama agar tubuh tidak lemas. Penyesuaian pola istirahat dan olahraga juga perlu dilakukan agar fungsi tubuh tetap berjalan normal meski sedang berpuasa.
Menurut dr. Atika Budi Intan Lestari dari RS UMMI Bengkulu, perhatian terhadap asupan nutrisi adalah hal yang krusial. “Pada saat sahur, penting memilih makanan yang mengandung karbohidrat, protein, serta serat dari sayuran dan buah-buahan," ungkapnya saat menjadi narasumber dialog Bengkulu Pagi Ini, Jumat, 27 Februari 2026)
Mengenai menu berbuka, dr. Atika menyarankan masyarakat untuk memilih jenis makanan yang ringan dan mudah diproses oleh lambung. Hal ini berkaitan dengan kondisi sistem pencernaan yang telah beristirahat selama belasan jam.
“Sebaiknya pilihlah makanan yang gampang dicerna, karena saat berpuasa pencernaan kita sedang istirahat lebih kurang 12 jam. Konsumsi makanan yang mudah dicerna bisa membantu tubuh mengatasi penumpukan gula darah,” tutur dr. Atika lebih lanjut.
Dalam konteks medis dan sunnah, dr. Atika menyebutkan bahwa buah kurma dan air putih adalah kombinasi terbaik untuk membatalkan puasa. Kedua bahan ini dinilai paling efektif untuk mengembalikan kondisi tubuh secara instan.
”Kenapa mesti kurma? Karena pada kurma itu terdapat gula alami yang cepat sekali mengembalikan energi yang terkuras saat puasa. Sebaiknya juga konsumsi air putih yang cukup dan mengurangi konsumsi makanan pedas serta berminyak yang berlebihan,” tambahnya.
Meskipun minuman manis seperti teh sering menjadi tradisi saat berbuka, dr. Atika memberikan catatan khusus mengenai porsinya. Konsumsi gula yang tidak terkontrol dapat memicu masalah kesehatan baru bagi tubuh.
| Baca juga: Diet Gagal karena Lapar Mata, Ini Solusinya |
Ia menyarankan agar masyarakat membatasi konsumsi gula yang berlebihan. Hal ini dilakukan untuk menghindari dampak negatif akibat lonjakan drastis kadar gula darah setelah berjam-jam tubuh tidak mendapatkan asupan nutrisi.
Selain urusan konsumsi, aktivitas fisik tetap disarankan agar tubuh tidak kaku selama menjalankan ibadah puasa. Namun, intensitas dan waktu pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kemampuan fisik saat itu.
Dalam dialog yang dipancarluaskan di RRI Bintuhan tersebut, dr. Atika menyarankan agar masyarakat tetap melakukan olahraga ringan. Langkah ini diambil agar kebugaran jantung dan otot tetap terjaga meski dalam kondisi berpuasa.
Pemilihan waktu olahraga menjadi faktor penentu agar ibadah puasa tidak terganggu oleh rasa lemas yang berlebihan. Waktu yang paling ideal adalah saat mendekati jam berbuka puasa atau sering disebut dengan waktu ngabuburit.
"Waktu yang tepat untuk olahraga adalah ketika menjelang berbuka. Karena jika dilakukan siang hari, dikhawatirkan akan menguras tenaga dan menyebabkan dehidrasi," tutur dr. Atika
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....