Tradisi Unik Khas Daerah Merayakan HUT RI
- 16 Agt 2025 10:32 WIB
- Bintuhan
KBRN Bintuhan: Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang ke-80, yang jatuh pada hari Minggu, 17 Agustus 2025.
Setiap tahunnya, momen bersejarah ini selalu dirayakan dengan penuh semangat di seluruh penjuru negeri. Namun, tahukah Anda bahwa di balik upacara bendera dan lomba-lomba yang sudah akrab di mata publik, ada beragam tradisi unik yang hanya ada di daerah-daerah tertentu di Indonesia. Dari ritual adat hingga permainan rakyat yang sarat makna, perayaan 17 Agustus di Nusantara bukan sekadar seremoni, melainkan cermin kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun.Berikut adalah beberapa tradisi daerah unik dalam memperingati 17 Agustus di berbagai wilayah Indonesia:
• 1. Pacu Kude (Aceh): Pacu Kude adalah lomba pacuan kuda tradisional yang dilakukan tanpa menggunakan pelana, di mana joki menunggangi kuda langsung dengan keterampilan khusus.
• Awalnya, Pacu Kude digelar sebagai bagian dari perayaan setelah panen padi, yang disebut luah berume atau lues belang, sebagai bentuk syukuran dan hiburan masyarakat Gayo.
• Lintasan pacu kuda awalnya sepanjang 1,5 kilometer dengan rute lurus dari Wekef menuju Menye.
• Pada masa penjajahan Belanda, Pacu Kude sempat digunakan untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Belanda pada tahun 1912.
| Baca juga: Cicipi Kekhasan Kopi Gayo |
• Tradisi ini sempat menurun selama masa penjajahan Jepang karena kuda-kuda diambil untuk keperluan militer Jepang.
• Setelah kemerdekaan Indonesia, tradisi Pacu Kude kembali hidup dan kini menjadi agenda tahunan pemerintah daerah Aceh Tengah, terutama untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI.
• Pacu Kude melibatkan joki muda berusia 10-16 tahun, yang harus menunggang kuda tanpa pelana, dan pemenangnya tidak mendapatkan hadiah materi tapi mendapat "gah" atau nama besar sebagai penghormatan.
• Acara ini tidak hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan sosial serta melestarikan budaya lokal yang kaya akan nilai sejarah dan tradisi leluhur.
dari pesta panen.
2. Lomba Sampan Layar (Batam):Perlombaan perahu layar tradisional di lautan dengan layar warna-warni dan tradisi ini sudah ada sejak 1965. Lomba ini biasanya diadakan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), misalnya HUT ke-80 RI pada 2025.
| Baca juga: Rekomendasi Wisata Keluarga di Yogyakarta |
• Peserta lomba terdiri dari beberapa kategori berdasarkan jumlah kru di sampan: 9 orang, 7 orang, dan 5 orang per kapal.
• Peserta lomba tidak hanya berasal dari Batam, tapi juga dari daerah sekitar seperti Kabupaten Karimun, Kabupaten Bintan, Kota Tanjungpinang, dan pulau-pulau sekitarnya.
• Lomba ini bukan hanya hiburan, tetapi juga upaya melestarikan budaya bahari Melayu dan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal melalui wisata dan perdagangan selama acara berlangsung.
3.Telok Abang (Palembang): Telok Abang berarti "telur merah," yakni telur rebus yang cangkangnya diberi warna merah menggunakan pewarna makanan.
• Telur merah ini kemudian ditancapkan pada mainan anak-anak yang terbuat dari bahan kayu gabus atau kertas karton, yang berbentuk kapal, pesawat, truk, becak, dan berbagai model lainnya.
• Mainan Telok Abang dihiasi dengan kertas origami atau kertas bermotif songket dan batik, serta dilengkapi dengan bendera merah putih agar semakin menarik.
• Tradisi ini sudah menjadi bagian dari budaya tahunan yang hanya ada di bulan Agustus, dan penjual Telok Abang mulai banyak muncul di jalan-jalan protokol Palembang sejak awal Agustus.
4. Pawai Jampana (Bandung): Istilah "jampana" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tandu (tandu adalah alat pengangkut yang biasanya digunakan untuk membawa seseorang, seperti pengantin atau anak laki-laki saat khitanan).
• Pawai Jampana merupakan arak-arakan tandu besar yang diarak berkeliling oleh masyarakat. Tandu tersebut berisi berbagai hasil bumi, hidangan makanan khas, dan kerajinan tangan masyarakat setempat.
• Biasanya, tandu besar ini dipikul oleh empat orang dan dihiasi dengan warna-warni yang menarik. Rombongan pawai diiringi dengan musik tradisional maupun modern yang dimainkan secara langsung.
• Pawai ini tidak hanya sekedar acara perayaan, tetapi juga merupakan ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus upaya untuk melestarikan budaya kkhas daerah Sunda.
• Pawai Jampana juga berfungsi sebagai sarana memperkenalkan produk unggulan masyarakat Jawa Barat, seperti hasil pertanian dan kerajinan tangan, sehingga juga dapat meningkatkan ekonomi lokal.
• Selain dilaksanakan setiap 17 Agustus, Pawai Jampana kini juga sering diselenggarakan saat hari besar lain di wilayah Jawa Barat, seperti ulang tahun kota atau kabupaten.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....