Makan "Beantagh", Tradisi Makan Ala Jadul yang Kini Nyaris Dilupakan

  • 29 Mei 2026 05:05 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bintuhan - Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, sejumlah tradisi lama perlahan mulai ditinggalkan masyarakat. Tradisi yang dahulu lekat dengan kehidupan sosial kini mulai dianggap kurang praktis dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa kini.

Salah satu tradisi yang kini nyaris punah di Kabupaten Kaur adalah makan beantagh. Tradisi makan bersama dengan konsep lesehan tersebut dahulu menjadi bagian penting dalam berbagai acara hajatan masyarakat.

Dalam tradisi beantagh, hidangan disusun rapi di atas alas dan disantap bersama-sama oleh para tamu yang duduk mengelilingi makanan. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan menjadi nilai utama yang tercermin dalam tradisi tersebut.

Pada masa lalu, makan beantagh hampir selalu hadir dalam acara pernikahan, syukuran, maupun hajatan adat lainnya di tengah masyarakat Kaur. Tradisi ini bukan sekadar cara menyajikan makanan, melainkan juga simbol kebersamaan dan gotong royong antarwarga.

Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan beantagh mulai tergeser oleh sistem penyajian prasmanan yang dinilai lebih praktis. Masyarakat kini cenderung memilih metode prasmanan karena lebih cepat dan mudah diterapkan dalam berbagai acara.

Salah seorang warga Padang Guci, Yefi Niarti, menuturkan bahwa penyajian prasmanan dianggap lebih efektif dibandingkan tradisi beantagh. “Menghidangkan makanan dengan cara beantagh itu ribet, sudah jarang orang melakukannya,” tutur Yefi saat bertugas sebagai pramusaji prasmanan pada sebuah hajatan.

Meski mulai ditinggalkan, tradisi beantagh diharapkan tetap dapat dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Kaur. Upaya pelestarian dinilai penting agar generasi muda tetap mengenal tradisi leluhur yang sarat nilai kebersamaan dan kearifan lokal

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....