Kemarau Panjang dan Hujan Buatan, Mengapa Tidak Selalu Efektif?
- 21 Sep 2026 21:03 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan - Banyak orang mengira Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mampu menciptakan hujan kapan saja. Padahal, teknologi ini tidak bekerja seperti "mesin pembuat hujan" yang dapat digunakan sesuka hati.
Dalam praktiknya, garam yang disemai ke awan bukanlah bahan yang menciptakan hujan dari nol. Garam hanya membantu mempercepat proses alami yang sebenarnya sudah berlangsung di dalam awan.
Mengutip laman edukasi iklim Klimat4Life, awan tersusun dari jutaan tetes air berukuran sangat kecil. Pada awan hangat, partikel garam yang disebarkan dari pesawat berfungsi sebagai inti kondensasi (cloud condensation nuclei), yaitu partikel yang membantu uap air berubah menjadi tetesan air.
Uap air di dalam awan lebih mudah menempel pada butiran garam tersebut. Akibatnya, tetesan air tumbuh lebih cepat melalui proses tumbukan dan penggabungan (collision-coalescence) hingga ukurannya cukup besar untuk jatuh sebagai hujan.
Klimat4Life menjelaskan bahwa penyemaian awan bukanlah proses menciptakan hujan dari kondisi atmosfer yang kering. Teknologi ini hanya membantu mempercepat proses pembentukan hujan pada awan yang memang telah memiliki kandungan uap air yang memadai.
Namun, keberhasilan penyemaian awan tidak selalu terjamin. Faktor terpenting adalah ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.
Jika langit cerah atau awan terlalu tipis, jumlah uap air yang tersedia tidak cukup untuk membentuk hujan. Dalam kondisi seperti itu, penyemaian awan tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan karena tidak ada cukup material di atmosfer yang dapat dikembangkan menjadi tetesan hujan.
Kondisi inilah yang sering terjadi saat musim kemarau. Udara cenderung lebih kering dan stabil sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan musim penghujan.
Akibatnya, peluang keberhasilan Teknologi Modifikasi Cuaca juga ikut menurun. Bahkan pada beberapa hari tertentu, tidak terdapat awan yang layak untuk disemai sehingga operasi TMC tidak dapat dilakukan secara optimal.
Karena itu, para ahli menegaskan bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca bukanlah teknologi yang mampu mengendalikan cuaca sesuka hati. TMC hanya berfungsi meningkatkan peluang terjadinya hujan ketika kondisi atmosfer mendukung.
Keberhasilan teknologi ini tetap bergantung pada keberadaan awan yang sesuai, kandungan uap air di atmosfer, kondisi angin, serta ketepatan waktu penyemaian. Dengan kata lain, TMC merupakan alat bantu pengelolaan cuaca, bukan solusi tunggal untuk mengatasi kekeringan berkepanjangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....