Diam-Diam Jadi Termometer, Jangkrik Bisa Membaca Suhu?
- 29 Agt 2026 16:03 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bintuhan - Suara jangkrik yang terdengar pada malam hari ternyata menyimpan informasi menarik tentang kondisi lingkungan. Tanpa kita sadari, frekuensi suara jangkrik dapat digunakan untuk memperkirakan suhu udara di sekitarnya.
Fenomena tersebut dikenal sebagai Hukum Dolbear, yang menghubungkan frekuensi kicauan jangkrik dengan temperatur udara. Melansir The Old Farmer's Almanac, hubungan tersebut pertama kali dipublikasikan Amos Dolbear melalui artikel berjudul The Cricket as a Thermometer pada 1897.
Jangkrik tidak benar-benar sengaja memberikan “kode” mengenai suhu kepada manusia. Suara yang dihasilkan merupakan bagian dari perilaku alaminya, terutama panggilan pejantan untuk menarik perhatian betina.
Menurut kajian yang dirangkum ScienceABC, jangkrik termasuk hewan ektoterm yang aktivitas tubuhnya sangat dipengaruhi suhu lingkungan. Ketika suhu meningkat, aktivitas otot dan reaksi kimia dalam tubuhnya berlangsung lebih cepat sehingga frekuensi kicauannya cenderung meningkat.
Sebaliknya, ketika udara semakin dingin, aktivitas jangkrik biasanya melambat dan suara yang dihasilkan menjadi lebih jarang. Artinya, semakin sering suara jangkrik terdengar dalam kondisi tertentu, suhu lingkungan umumnya cenderung lebih hangat.
Hubungan antara suara jangkrik dan suhu inilah yang kemudian dikenal sebagai Hukum Dolbear. Melansir The Old Farmer's Almanac, salah satu cara sederhana adalah menghitung jumlah kicauan selama 14 detik kemudian menambahkan angka 40 untuk memperkirakan suhu Fahrenheit.
Sebagai contoh, apabila terdengar 30 kicauan dalam 14 detik, hasilnya sekitar 70 derajat Fahrenheit atau sekitar 21 derajat Celsius. Namun, hasil tersebut hanya berupa perkiraan dan bukan pengganti termometer yang digunakan untuk pengukuran secara akurat.
Ada hal penting yang perlu diperhatikan karena tidak semua jenis jangkrik memiliki hubungan suara dan suhu yang sama kuat. Melansir penjelasan mengenai Hukum Dolbear, jangkrik pohon salju atau snowy tree cricket dikenal memiliki hubungan yang lebih konsisten antara frekuensi kicauan dan temperatur.
Sementara itu, suara jangkrik lapangan dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti usia, kondisi tubuh, serta aktivitas kawin. Karena itu, menghitung suara jangkrik hanya dapat digunakan sebagai cara sederhana untuk memperkirakan suhu, bukan sebagai pengukuran ilmiah yang selalu tepat.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana perilaku hewan dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi lingkungan. Suara yang selama ini hanya dianggap sebagai bagian dari suasana malam ternyata memiliki hubungan menarik dengan perubahan temperatur.
Jadi, ketika mendengar jangkrik berbunyi semakin ramai pada malam hari, bisa jadi udara di sekitar sedang relatif hangat. Meski begitu, untuk mengetahui suhu secara pasti, tetap gunakan termometer karena suara jangkrik dipengaruhi banyak faktor lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....