Dari Masjid Raya Baitul Izzah, Ribuan Jamaah Serukan Kebangkitan Umat

  • 26 Agt 2026 13:29 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu – Ribuan kaum muslimin dan muslimat dari berbagai kalangan memadati Masjid Raya Baitul Izzah Bengkulu dalam kegiatan gabungan Gerakan Subuh Berjamaah (GSB), Majelis Cinta Nabi, dan Ta’lim Maulid Akbar, Selasa 25 Agustus 2026. Sejak menjelang waktu Subuh, jamaah berdatangan untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung khusyuk dan penuh semangat kebersamaan.

Kegiatan yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1448 Hijriah itu mengusung pesan “Singkap Selimut dan Bangunlah”. Pesan tersebut menjadi ajakan untuk membangkitkan semangat beribadah, menuntut ilmu, berdakwah, serta mengambil peran positif dalam membangun kehidupan bermasyarakat, bangsa, dan negara.

Rangkaian acara diawali dengan tilawah Al-Qur’an Surat Al-Muzzammil yang dibacakan Mimi, murid kelas V SDIT Rabbani. Lantunan ayat suci tersebut menambah suasana khidmat di tengah ribuan jamaah yang memenuhi masjid sejak dini hari.

Kehangatan acara juga terasa melalui penampilan Da’i Shaghir, Qiando Ghifari, santri kelas IX PPIIT Rabbani, yang menyampaikan pesan tentang pentingnya ilmu bagi generasi muda. Dengan penyampaian yang penuh semangat, Qiando mengajak peserta untuk tidak pernah berhenti belajar dan menjadikan ilmu sebagai bekal untuk memberi manfaat kepada sesama.

Ketua DKM Masjid Raya Baitul Izzah, Prof. Dr. H. Hery Noor Aly, kemudian menyampaikan taushiyah mengenai kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dalam taushiyahnya, jamaah diajak mengenang perjuangan, kesabaran, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Puncak kegiatan diisi dengan Ta’lim Surat Al-Muzzammil yang disampaikan Khadim Ma’had Rabbani Bengkulu, KH. Muhammad Syamlan. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah melakukan introspeksi tentang keberanian seorang Muslim dalam mengambil sikap ketika menghadapi berbagai tantangan dalam memperjuangkan kebenaran.

“Andaikan kita hidup di zaman Nabi, kita ini termasuk yang mencela Nabi atau yang membela Nabi?” ujar Muhammad Syamlan. Pertanyaan tersebut menjadi bahan perenungan untuk mengajak setiap peserta melihat kembali peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan sehari-hari.

KH. Muhammad Syamlan menjelaskan bahwa perjuangan Rasulullah SAW juga dihadapkan pada penolakan dan berbagai tuduhan dari pihak yang menentangnya. Namun, tekanan yang dihadapi tidak menghentikan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah dan menegakkan nilai-nilai kebaikan.

Menurut Muhammad Syamlan, “selimut” tidak hanya dimaknai sebagai kain yang menutupi tubuh, tetapi dapat menjadi simbol rasa nyaman, kemalasan, ketakutan, dan sikap terlena. “Ayo, bangun untuk Allah, bangun untuk umat, bangun untuk bangsa dan negara, serta bangun untuk dunia,” kata Muhammad Syamlan.

Pesan tersebut juga menjadi dorongan agar generasi muda tidak mudah menyerah ketika menghadapi hambatan dan tantangan. Semangat untuk terus belajar, berbuat baik, dan memberikan manfaat kepada lingkungan diharapkan dapat menjadi bagian dari kebangkitan spiritual dan sosial masyarakat.

Kehadiran ribuan jamaah dalam kegiatan Subuh berjamaah ini menunjukkan kuatnya semangat masyarakat untuk berkumpul dalam kegiatan keagamaan dan mempererat persaudaraan. Momentum tersebut diharapkan menjadi energi positif untuk memperkuat keimanan, kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta kepedulian terhadap sesama.

Di tengah suasana Subuh yang membahana, seruan “Singkap Selimut dan Bangunlah” pun menjadi lebih dari sekadar tema kegiatan. Pesan itu menjadi ajakan untuk meninggalkan keterlenaan, menumbuhkan keberanian berbuat baik, dan bersama-sama membangun umat, bangsa, serta masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....