Mengenal Tren 'Job Hugging' yang Kini Landa Gen Z dan Milenial

  • 19 Jun 2026 15:50 WIB
  •  Bintuhan

RRI.CO.ID, Bengkulu – Jika beberapa tahun lalu anak muda ramai-ramai membicarakan resign demi mencari pekerjaan impian, kini situasinya mulai berubah. Memasuki tahun 2026, tren "Job Hugging" atau bertahan erat pada pekerjaan yang dimiliki justru menjadi pilihan banyak pekerja muda dari generasi Z dan Milenial.

Fenomena ini menggambarkan sikap pekerja yang memilih tetap berada di tempat kerja saat ini meski tidak selalu merasa puas dengan pekerjaannya. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, banyak orang menilai memiliki pekerjaan tetap jauh lebih aman dibanding mengambil risiko mencari peluang baru.

Istilah job hugging pertama kali dipopulerkan oleh firma konsultan global Korn Ferry untuk menggambarkan pekerja yang mempertahankan pekerjaannya demi menghadapi ketidakpastian pasar tenaga kerja. Fenomena ini menjadi kebalikan dari tren job hopping atau berpindah-pindah pekerjaan yang sempat populer beberapa tahun lalu.

Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya tren ini adalah kecemasan finansial. Data survei Deloitte menunjukkan banyak pekerja muda masih menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi, mulai dari kebutuhan tempat tinggal hingga cicilan, sehingga stabilitas penghasilan menjadi prioritas utama.

Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) turut memengaruhi pola pikir pekerja muda. Gelombang efisiensi perusahaan dan pemutusan hubungan kerja yang terjadi di berbagai sektor membuat banyak orang memilih mempertahankan posisi yang dimiliki daripada menghadapi ketidakpastian di pasar kerja.

Pengamat ketenagakerjaan sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Tadjuddin Nor Efendi, menilai kondisi pasar kerja yang fluktuatif membuat pekerja semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan karier. "Mencari pekerjaan baru membawa risiko tinggi, sehingga mereka cenderung bertahan di tempat mereka berada. Lebih baik memegang pekerjaan yang ada saat ini daripada mengambil risiko dengan prospek yang belum pasti," ujarnya.

Menurut Prof. Tadjuddin, banyak pekerja yang menerapkan job hugging memilih mencari penghasilan tambahan tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Langkah tersebut dianggap sebagai solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan pendapatan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi saat ini.

Sementara itu, dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Rini Juni Astuti, S.E., M.Sc., mengingatkan bahwa fenomena ini memiliki dampak positif dan negatif. "Job hugging dapat meningkatkan loyalitas, tetapi juga berisiko menimbulkan stagnasi apabila perusahaan tidak menyediakan jalur pengembangan karier dan peningkatan keterampilan bagi karyawan," jelasnya.

Dr. Rini menilai perusahaan perlu merespons fenomena tersebut dengan menyediakan program pelatihan, rotasi kerja, hingga pendampingan karier. Dengan demikian, loyalitas karyawan tidak hanya membuat mereka bertahan, tetapi juga berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih produktif bagi organisasi.

Tren job hugging menunjukkan bahwa prioritas generasi muda saat ini mulai bergeser dari sekadar mencari pekerjaan ideal menjadi mencari rasa aman dan kepastian. Di tengah tantangan ekonomi global dan perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat, stabilitas karier kini menjadi aset yang semakin berharga bagi banyak pekerja muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....