Sejumlah Mitos di Waktu Maghrib, Ini Faktanya
- 30 Apr 2026 19:23 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bengkulu - Waktu maghrib sering kali dianggap sebagai saat-saat yang rawan dan penuh dengan cerita mistis di kalangan masyarakat Indonesia. Sejak zaman dahulu, orang tua selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk tidak keluar rumah, menutup pintu, dan segera pulang saat matahari terbenam.
Meski sering dianggap sekadar mitos atau dongeng menakutkan untuk menertibkan anak. Ternyata kebiasaan ini memiliki fakta ilmiah dan nilai filosofis yang sangat relevan dengan kesehatan serta kehidupan sosial.
Berikut adalah beberapa fakta di balik larangan dan mitos waktu maghrib yang perlu Anda ketahui:
1. Mitos: Anak-anak Diculik Wewe Gombel
Fakta Ilmiah: Secara psikologis dan kesehatan, anak-anak rentan mengalami kelelahan menjelang petang setelah seharian beraktivitas. Berada di luar rumah pada waktu transisi dari siang ke malam meningkatkan risiko anak terpapar udara dingin (masuk angin) dan nyamuk demam berdarah. Larangan keluar rumah sebenarnya adalah bentuk perlindungan orang tua terhadap kesehatan fisik anak.
2. Mitos: Jangan Tidur di Waktu Maghrib
Fakta Kesehatan: Tidur pada saat pergantian waktu (sore menuju malam) dikenal dalam dunia medis dapat mengganggu siklus sirkadian atau jam biologis tubuh. Bangun dari tidur di waktu maghrib sering kali membuat seseorang merasa pusing, lemas, dan disorientasi akibat perubahan suhu serta penurunan intensitas cahaya secara drastis.
3. Mitos: Pamali Menyapu Saat Maghrib
Fakta Logika & Kebersihan: Mitos tidak boleh menyapu pada malam hari (termasuk maghrib) muncul karena pada masa lalu pencahayaan masih minim. Menyapu dalam kondisi gelap berisiko menyapu barang berharga atau pecahan kaca yang tidak terlihat. Selain itu, dari sudut pandang kesehatan, debu yang disapu pada malam hari justru dapat mengudara dan terhirup saat tidur.
4. Mitos: Waktu Maghrib Waktu Makhluk Halus Keluar
Fakta Filosofis & Spiritual: Secara astronomis, waktu maghrib adalah saat terjadinya perubahan spektrum cahaya. Terjadinya perubahan dari warna jingga/merah menjadi gelap dapat memengaruhi suasana hati manusia menjadi lebih sendu atau cemas. Dalam konteks agama, waktu maghrib adalah momen peralihan spiritual yang dianjurkan untuk segera beribadah dan introspeksi diri daripada berkeliaran tanpa tujuan.
Larangan-larangan yang dibungkus dalam bentuk mitos oleh para leluhur kita sebenarnya merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom). Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan waktu, menjaga kesehatan, dan meningkatkan keselamatan keluarga.
Jadi, anggapan sepele tentang waktu maghrib sebaiknya diubah menjadi kebiasaan positif seperti berkumpul bersama keluarga, beribadah, dan beristirahat. Sekaligus untuk membuat anak disiplin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....