Melacak Jejak Janur Kuning: Filosofi "Cahaya Sejati" di Balik Tradisi Nusantara
- 28 Apr 2026 17:32 WIB
- Bintuhan
RRI.CO.ID, Bengkulu - Siapa yang tidak langsung teringat suasana pesta pernikahan saat melihat lambaian daun kelapa muda di tepi jalan? Janur kuning telah lama menjadi simbol universal bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, untuk menandakan sebuah perhelatan besar. Namun, di balik fungsinya sebagai penanda arah, tersimpan sejarah panjang dan filosofi spiritual yang mendalam.
Makna di Balik Nama: Sebuah Doa Visual
Secara etimologi, kata "Janur" bukan sekadar singkatan teknis. Dalam tradisi lisan Jawa, janur dipercaya berasal dari akronim frasa Arab dan Jawa yang sarat makna spiritual:
"Sejatining Nur" (Cahaya yang Sejati) dan "Nur" (Cahaya)
Sementara itu, warna Kuning diartikan sebagai Sabda Dadi, yang bermakna "segala ucapan atau doa akan terwujud atas izin Tuhan." Jika disatukan, janur kuning adalah simbol harapan agar kedua mempelai atau penyelenggara acara mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa menuju jalan yang terang.
Sejarah: Dari Zaman Kerajaan hingga Akulturasi Wali Songo
Penggunaan janur kuning tercatat sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Pada masa itu, janur sering digunakan dalam sesaji sebagai simbol penghormatan kepada alam dan sang pencipta.
Memasuki era penyebaran Islam di tanah Jawa, para Wali Songo melakukan akulturasi budaya. Alih-alih menghapus tradisi janur, mereka menyisipkan nilai-nilai tauhid ke dalamnya. Janur yang tadinya murni ritual persembahan, diubah menjadi simbol pengingat akan kebesaran Allah SWT. Itulah mengapa dalam prosesi pernikahan adat Jawa, kita mengenal Kembar Mayang, yaitu rangkaian janur yang melambangkan penyatuan dua jiwa dalam lindungan Tuhan.
Janur Kuning di Era Modern
Meski zaman telah berganti dan dekorasi pernikahan kini banyak menggunakan material sintetis atau bunga impor, janur kuning tetap memiliki tempat istimewa. Di Bali, janur yang dirangkai tinggi disebut Penjor, simbol gunung yang memberikan kemakmuran. Di Jawa, ia tetap menjadi identitas visual yang tak tergantikan.
"Janur itu bukan cuma soal estetika," ujar seorang budayawan lokal. "Ia adalah pengingat bahwa setiap hajatan manusia harus dimulai dengan niat yang suci (putih/muda) dan diarahkan oleh cahaya Tuhan (nur)."
Janur kuning adalah bukti betapa hebatnya nenek moyang kita dalam menyisipkan pesan moral ke dalam benda alam. Ia bukan sekadar hiasan tepi jalan, melainkan sebuah doa yang berkibar ditiup angin, memohon keberkahan bagi mereka yang sedang memulai babak baru dalam hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....