22 Januari 1906, Kapal Valencia Karam di Vancouver

  • 22 Jan 2026 19:06 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Kecelakaan laut paling tragis dalam sejarah di Amerika Utara yang mana sebuah kapal menuju Seattle dari San Fransisco menghadapi cuaca buruk di tengah ombak besar sekitar laut Kanada, menewaskan sebanyak 136 korban, termasuk 17 wanita dan 11 anak-anak yang terjadi pada 22 Januari 1906.

Dalam perjalanan mereka, kapal yang telah berangkat pada 20 Januari ini tak pernah menduga perubahan cuaca setelah dua hari kemudian. Kabut tebal dan jarak panjang yang sangat terbatas membuat kapten sulit untuk mengendalikan badan kapal dari terjangan ombak. Saat memasuki Selat Juan de Fuca selama badai menjelang tengah malam, kapten Oscar Marcus Johnson kesulitan untuk mengetahui keberadaan mereka sehingga ia memerintahkan awak kapal mengambil jalur yang lebih dekat ke pantai.

Namun, keputusan tersebut menjadi akhir dari kapal penumpang yang menabrak karang berbatu di lepas pantai Barat, Pulau Vancouver, dan tersangkut yang berjarak kurang dari 400 kaki dari pantai, dilansir dari Smithsonian Magazine, Kamis 22 Januari 2026.

Setelah tabrakan tersebut, selama hampir 40 jam perlahan kapal dihancurkan oleh ombak besar Samudera Pasifik. Upaya penyelamatan segera dilakukan secepat mungkin dengan melepaskan sekoci yang ternyata tidak membantu karena terbalik akibat kondisi di atas kapal yang terombang-ambing oleh ombak ganas. Di tengah kepanikan, seorang penumpang secara tidak sengaja memotong tali sekoci di salah satu sisi sekoci yang lain sehingga kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri semakin kecil selain menunggu tim penyelamat.

Salah seorang penumpang selamat, Frank Lehm, awak kapal yang bertugas sebagai petugas pencatatan muatan di kapal, menggambarkan situasi yang dilanda kepasrahan dengan para penumpang berhamburan keluar.

"Seperti kilat, buritan sekoci jatuh ke tepi air, meninggalkan haluan menggantung di udara. Para penumpang berhamburan keluar seperti kerikil dari gelas dan jatuh dengan jeritan dan rintihan ke dalam ombak yang (sedang) bergejolak," lapornya.

Dalam situasi ini, hanya beberapa orang selamat setelah menggunakan rakitan darurat buatan awak dan penumpang yang membawa mereka ke tepi pantai, sementara puluhan orang terjebak di dalam kapal selama 36 jam berikutnya dengan berpegangan pada tali saat gelombang menghantam yang menghancurkan tubuh kapal tersebut, seperti yang dilaporkan Daryl C. McClary dari HistoryLink.

Selain itu, perahu yang ingin mengevakuasi penumpang terjebak ke daratan menghadapi hambatan setelah tim penyelamat tidak dapat mendekati kapal yang berada di tengah laut selama badai masih berlangsung, serta posisi sepanjang pantai yang dipenuhi tebing curam semakin sulit melakukan pendekatan. Akhirnya, penumpang yang tersisa turut tersapu dengan gelombang besar di hadapan tim penyelamat yang tidak dapat melakukan evakuasi.

Rekomendasi Berita