Theo, Dalang Cilik Gunungkidul, Yogyakarta yang Jatuh Hati pada Wayang

  • 01 Sep 2026 17:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Theo Adya Pranaja, seorang pelajar SMP berusia 12 tahun asal Dusun Ngloro, Gunungkidul, memulai perjalanan mengenal wayang setelah membawa pulang wayang kecil dari Gembria Loka.
  • Meskipun menjadi pelajar aktif, Theo meluangkan waktu untuk mendalami seni wayang yang merupakan kesenian tradisional yang kini menjadi bagian penting dalam keseharian hidupnya.
  • Minat Theo terhadap wayang menunjukkan komitmen generasi muda dalam melestarikan warisan budaya tradisional Indonesia di tengah perkembangan zaman modern.
Video

RRI.CO.ID, Jakarta– Sebuah wayang kecil yang dibawa pulang dari Gembira Loka menjadi awal perjalanan Theo Adya Pranaja mengenal dunia pedalangan. Kini, bocah 12 tahun asal Dusun Ngloro, Kalurahan Ngloro, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul, itu duduk di kelas 1 SMP.

Di tengah kesehariannya sebagai pelajar, Theo memilih menghabiskan waktu dengan sesuatu yang terasa asing bagi sebagian anak seusianya. Pilihan itu adalah wayang, kesenian tradisional yang kini menjadi bagian penting dalam keseharian Theo.

Ketertarikannya bermula ketika Theo masih duduk di kelas 3 SD, sekitar akhir 2022. Saat itu, tantenya yang bekerja sebagai guru TK membawa oleh-oleh wayang mainan setelah mengikuti kegiatan wisata ke Gembira Loka.

Wayang berbentuk buto itu justru membuat Theo penasaran. Dari situlah keinginan tahunya muncul untuk mencari tahu sosok apa itu.

“Saya penasaran, pas itu kan saya masih bocil, rasa ingin tahu yang besar. Saya cari-cari terus, search, search, lama-lama jadi suka,” kata Theo kepada RRI, Senin 24 Agustus 2026.

Rasa penasaran itu kemudian berkembang menjadi kegemaran. Theo mulai mencari berbagai informasi mengenai wayang melalui internet dan YouTube.

Dari sekadar melihat, ia mulai ingin memiliki wayang sendiri. Sang ayah, Mulyono, masih mengingat bagaimana ketertarikan anaknya tumbuh perlahan.

“Tau-tau minta dibeliin wayang, beliin wayang bahan kardus itu, Pandawa Lima. Terus tau-tau minta dibikinin kelir, pokoknya perlengkapan pewayangan,” ujar Mulyono.

Kecintaan Theo terhadap wayang tidak selalu mudah dibagikan kepada teman-teman sekolahnya. Ia mengakui, hampir tidak ada teman sekelasnya yang memiliki kegemaran serupa.

“Kalau sekelas itu nggak ada sama sekali, desa nggak pernah ada. Tapi kalau di luar kecamatan atau di luar desa ada banyak,” ujarnya.

Pertemuannya dengan sanggar pedalangan kemudian mempertemukan Theo dengan anak-anak lain yang memiliki minat serupa. “Setelah masuk sanggar, setelah mengikuti les atau sanggar wayang, itu saya sudah ketemu banyak dalang cilik yang sefrekuensi,” katanya.

Theo juga memiliki sejumlah sosok yang menjadi inspirasinya dalam dunia pedalangan. Ia menyebut almarhum Ki Seno Nugroho dan dalang asal Kapanewon Nglipar, Yusof Ansor, sebagai dua dalang paling disukainya.

Sementara untuk tokoh wayang, Theo memiliki ketertarikan pada Bima atau Werkudara. Kecintaannya terhadap wayang bahkan pernah dibawanya ke lingkungan sekolah.

Theo sempat tampil dalam sebuah pentas di sekolahnya. Pengalaman itu membuat teman-temannya ikut antusias melihat pertunjukan wayang yang dibawakannya.

Bakat Theo mulai terlihat ketika ia mengikuti festival pada 2024. Saat itu, ia belum menjadi bagian dari sanggar pedalangan.

Mulyono menceritakan, awalnya Theo diajak mengikuti kegiatan teater anak dan kemudian diperkenalkan dengan dunia pedalangan. "Dari festival itu kan dikumpulin anak-anak sekecamatan," kata Mulyono

"Salah satunya ada dalang cilik yang sudah juara satu Gunungkidul. Nah, kenal itu sama bapaknya. Didaftarin festival wayang golek, Theo,” ujar Mulyono menambahkan.

Hasilnya cukup mengejutkan. Tanpa terlebih dahulu mengikuti sanggar pedalangan secara rutin, Theo mampu meraih juara lima tingkat Kabupaten Gunungkidul.

Setelah itu, semakin banyak pihak yang menyarankan Theo untuk serius belajar pedalangan melalui sanggar. Pada 2025, Theo kembali mengikuti festival. Kali ini ia sudah bergabung dengan sanggar.

Namun, persaingan yang dihadapi semakin ketat karena harus berhadapan dengan dalang-dalang cilik yang lebih senior. Mulyono menyebut, salah satu tantangan Theo adalah menghafalkan lakon dan menyesuaikan materi yang dipelajari dengan materi perlombaan.

Menjadi dalang cilik tidak membuat Theo meninggalkan kewajibannya sebagai pelajar. Ia tetap bersekolah, tetapi hampir setiap hari menyempatkan diri berlatih di rumah.

“Kalau di rumah hampir setiap hari latihan sendiri. Cuma kalau untuk di sanggar, karawitannya hari Minggu,” kata Mulyono.

Sementara latihan pedalangan dilakukan setiap Sabtu. Ketika hendak tampil, latihan di rumah menjadi lebih intensif.

Untuk mematangkan sebuah pertunjukan, Theo biasanya menghafalkan lakon terlebih dahulu. Mulyono kemudian memanggil pelatih untuk membantu mempersiapkan naskah dan mematangkan penampilan.

“Kalau mau pentas, kan harus matangkan lakonnya, itu baru saya panggilkan pelatih. Sekalian bikin naskah, terus belajar di rumah, menghafalkan,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga memiliki ruang pembinaan bagi anak-anak yang menekuni pedalangan. Setiap tahun, digelar workshop dan pelatihan dalang yang turut diikuti Theo.

Dalam festival tingkat kabupaten, Theo sebelumnya mewakili kapanewon. Jika berhasil menjadi juara pertama, barulah seorang peserta berkesempatan mewakili Gunungkidul ke tingkat berikutnya.

Meski memiliki kecintaan besar terhadap wayang, Theo belum membayangkan pedalangan sebagai satu-satunya pekerjaan ketika dewasa. Ia ingin menjadikan dunia pedalangan sebagai pekerjaan sampingan atau aktivitas yang tetap digeluti di luar pekerjaan utamanya.

“Saya ingin jadikan pekerjaan cadangan atau lebih saja. Tapi kalau jadi pekerjaan utama, paling ingin jadi pekerja kantoran,” ujarnya.

Namun, ada satu hal yang ingin tetap dilakukan Theo. Ia ingin wayang tidak berhenti hanya menjadi kegemarannya sendiri.

Theo menyadari, mengenalkan wayang kepada teman-teman sebaya bukan perkara mudah. Menurutnya, tidak semua anak tertarik pada seni pewayangan karena diperlukan pemahaman terhadap cerita, pakem, dan cara memainkan wayang.

Meski begitu, keinginan untuk ikut melestarikan budaya tersebut tetap ada dalam diri Theo.

Mulyono tidak memaksakan Theo harus menjadi dalang profesional. Ia hanya berharap kecintaan anaknya terhadap wayang dapat terus berkembang dan suatu saat memberi manfaat bagi orang lain.

Jika Theo kelak benar-benar menjadi dalang, Mulyono berharap anaknya tidak sekadar tampil memainkan wayang. Ia ingin Theo juga mampu menjadi pelopor dan pelatih bagi generasi berikutnya.

“Kalau seandainya Theo nanti bisa terus ada di jalur pedalangan dan bisa jadi dalang beneran, itu bukan cuma jadi dalang. Tapi dia juga bisa sebagai pelopor, pelatih,” harap Mulyono.

Ia mencontohkan sosok Yusof Ansor yang menurutnya menjadi salah satu inspirasi anak-anak Gunungkidul untuk mengenal wayang. "Jangan cuma jadi dalang doang, tapi bisa menularkan, jadi contoh Yusof Ansor,” katanya.

Bagi Theo, perjalanan mengenal wayang memang bermula dari sebuah benda kecil yang diberikan sebagai oleh-oleh. Rasa ingin tahu sederhana itu kemudian membawanya memasuki dunia cerita, seni, tradisi, latihan, hingga panggung pertunjukan wayang.

Di usianya yang masih 12 tahun, Theo mungkin belum tahu akan menjadi apa kelak. Ia bahkan masih menyimpan cita-cita menjadi pekerja kantoran.

Namun, satu hal sudah jelas: wayang telah menjadi bagian dari perjalanan masa kecilnya. Dan melalui tangannya, tradisi pedalangan menemukan satu lagi generasi muda yang bersedia mengenal, memainkan, dan menjaganya tetap hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....