Mengenal Pahlawan Soetan Sjahrir "Bung Kecil" Pemikir Idealis

  • 10 Nov 2022 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Soetan Sjahrir menjadi seorang pemimpin dan perdana menteri pertama revolusioner pasca kemerdekaan Indonesia. Dapat dikatakan ia sebagai seorang intelektual Indonesia yang cukup idealis.

Sjahrir menjabat sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Beliau disebut sebagai man of paradox dalam berbagai arti.

Ukuran tubuhnya bisa dibilang kecil dengan tinggi hanya 145 Centimeter (Cm) dan berat badan hanya 45,5 Kilogram (Kg). Karena ukuran tubuh yang tergolong kecil membuat dirinya dijuluki ‘Bung Kecil’.

Namun, dibalik tubuhnya yang kecil tersimpan energi dahsyat. Inteligensi Sjahrir yang mengagumkan sudah diakui banyak pihak dan tokoh politik nasional kala itu.

Ia dianggap sebagai seorang intelektual karena dirinya dinilai bisa lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan politiknya. Beliau mengutamakan kebutuhan negara di atas kebutuhannya sendiri.

Awal Kehidupan

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. Sjahrir adalah putra dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah.

Sang Ayah bekerja sebagai penasehat Sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Pada awal 1926, Sjahrir berhasil menyelesaikan pendidikan di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Mulo merupakan Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda. Setelah tamat dari MULO, dia melanjutkan pendidikannya di AMS Bandung.

Di AMS Sjahrir terkenal sebagai murid yang terkenal karena kecerdasannya. Pada 1927 di umur 18 tahun ia menjadi salah satu penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië.

Perhimpunan ini kemudian berganti nama menjadi Pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia ini berhasil menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia.

Kiprah Politik Sjahrir

Sjahrir merupakan salah satu dari Tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Ketujuh orang itu, yaitu Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution.

Mereka bertujuh memiliki akar pemikiran yang berbeda-berbeda untuk menentukan arah dan produk revolusi. Tercatat didalam sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir menjadi bagian utama garis ideologis.

Sjahrir dan Hatta sepakat kemerdekaan bisa diwujudkan tidak dengan angkat senjata, tetapi harus dilakukan secara elegan. Untuk mewujudkannya, Sjahrir menjalin hubungan diplomatis dengan berbagai negara jajahan Inggris.

Sjahrir juga sangat aktif memperjuangkan permasalahan pada Perundingan Linggarjati. Beliau memperjuangkan pasal perundingan tingkat PBB yang kemudian hari akan menimbulkan banyak perselisihan.

Akhir Kehidupan

Sjahrir dikenal sebagai sosok yang sangat beroposisi dengan pemerintahan Soekarno. Meski, bergerak pada arah kemerdekaan, cara pandang dan arah gerak mereka sangat berbeda.

Pada tahun 1962 hingga 1965, Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili. Beliau dituduh sebagai seorang yang terlibat dalam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Pada akhirnya, akibat penyakit stroke yang dia derita. Sjahrir diperbolehkan untuk berobat ke Zurich Swiss.

Sjahrir meninggal di Swiss pada 9 April 1966. Di tanggal yang sama, melalui Keppres Nomor 76 Tahun 1966, Soekarno menetapkan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Penulis: FM/Internship)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....