Ini Bahayanya Sampah Antariksa bagi Aktivitas Luar Angkasa

  • 05 Okt 2026 15:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Meningkatnya aktivitas satelit di luar angkasa menyebabkan peningkatan jumlah sampah antariksa yang mengancam keselamatan satelit, astronaut, dan misi luar angkasa.
  • Sampah antariksa berasal dari berbagai benda buatan manusia yang tertinggal setelah menjalankan aktivitas di luar angkasa.
  • Sampah antariksa dapat bergerak dengan kecepatan tinggi, bertabrakan satu sama lain menghasilkan puing baru, dan berpotensi kembali memasuki atmosfer Bumi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Meningkatnya aktivitas satelit di luar angkasa turut meningkatkan jumlah sampah antariksa. Keberadaan sampah tersebut dapat mengancam satelit, astronaut, dan berbagai misi luar angkasa.

Sampah antariksa berasal dari berbagai benda buatan manusia yang tertinggal setelah menjalankan aktivitas di luar angkasa. Benda tersebut dapat bergerak dengan kecepatan tinggi, bertabrakan, menghasilkan puing baru, hingga kembali memasuki atmosfer Bumi.

Apa Itu Sampah Antariksa?

Dilansir dari Badan Antariksa Eropa (ESA), Minggu, 5 Oktober 2026, sampah antariksa merupakan ancaman akibat meningkatnya aktivitas manusia. Sampah tersebut mencakup satelit tidak aktif, bagian roket, serta pecahan benda antariksa.

Sampah antariksa juga mencakup benda kecil, seperti serpihan puing atau pecahan cat yang terlepas dari roket. Benda tersebut dapat terbentuk akibat kerusakan atau tabrakan berbagai objek di orbit Bumi.

Objek tersebut bergerak dengan kecepatan sangat tinggi sehingga tumbukan dapat menimbulkan kerusakan serius. National Aeronautics and Space Administration (NASA) menyebut sampah-sampah tersebut sebagai ancaman bagi satelit, astronout, dan wahana antariksa.

Dikutip dari laman Britannica, lebih dari 70 kendaraan antariksa masih berada di Bulan. Kendaraan tersebut mencakup sebagian besar massa benda yang ditinggalkan manusia di permukaan Bulan.

Apa Bahayanya?

Salah satu bahaya sampah antariksa adalah risiko tabrakan dengan satelit yang masih aktif beroperasi. Benda berukuran lebih dari satu sentimeter bahkan dapat melumpuhkan satelit operasional.

Dampak tabrakan juga dapat menghentikan fungsi satelit dan menghasilkan pecahan baru. Pecahan tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko tabrakan dengan objek lainnya.

Kondisi tersebut dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai ‘Kessler Syndrome’. Fenomena ini menggambarkan rangkaian tabrakan yang terus menghasilkan lebih banyak sampah.

‘Kessler Syndrome’ juga dapat meningkatkan kepadatan sampah hingga orbit tertentu semakin sulit digunakan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan aktivitas manusia di luar angkasa.

Sampah antariksa juga dapat mengancam astronaut yang menjalankan misi di luar bumi. NASA menyebut tumbukan berkecepatan tinggi dapat merusak pesawat dan mengancam keselamatan astronaut.

Ancaman tidak hanya muncul ketika sampah tetap berada di orbit bumi. Sampah berukuran besar juga dapat kembali memasuki atmosfer melalui proses yang disebut ‘reentry’.

Sebagian benda antariksa dapat bertahan ketika memasuki atmosfer bumi. Namun, sebagian besar benda antariksa akan terbakar ketika melewati atmosfer bumi. (Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....