Mengenal Baghdad, Kota Seribu Satu Malam dan Pusat Peradaban Islam
- 03 Okt 2026 14:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Irak resmi merdeka pada 3 Oktober 1932 dari Britania Raya. Namun, sebelum itu, ibu kota Irak, Baghdad, telah memainkan peran penting sebagai pusat pemerintahan dan peradaban.
Melansir National Geographic, Baghdad memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan peradaban Islam. Kota ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat penting yang memengaruhi kehidupan intelektual dan kebudayaan dunia.
Khalifah Al-Manshur mendirikan Baghdad pada 762 M sebagai ibu kota Dinasti Abbasiyah. Kawasan tersebut telah dihuni manusia sejak 4000 SM dan termasuk wilayah Kerajaan Babilonia kuno.
Melansir Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Baghdad memiliki letak geografis yang strategis. Sungai Tigris membantu menghubungkan Baghdad dengan berbagai jalur perdagangan dan wilayah lainnya.
Al-Manshur merancang Baghdad dengan bentuk melingkar yang membuat kota tersebut mendapat julukan Kota Lingkaran. Pusat pemerintah dihubungkan oleh empat gerbang kota dengan berbagai arah melalui jalan-jalan utama.
Pusat kota menampilkan istana khalifah yang berdiri berdampingan dengan masjid besar sebagai bagian penting tata ruang Baghdad. Pembangunan tembok, parit, serta gerbang turut memperkuat karakter pertahanan kota.
Baghdad berkembang sebagai pusat ekonomi karena lokasinya mendukung pergerakan barang melalui jalur sungai dan darat. Aktivitas perdagangan menghubungkan Baghdad dengan berbagai wilayah Timur dan Barat.
Di bawah kepemimpinan Al-Mahdi, perekonomian Baghdad meningkat melalui sektor pertanian dan perdagangan. Perbaikan irigasi meningkatkan produksi gandum, beras, kurma, dan zaitun.
Pada masa Harun al-Rasyid, Baghdad mencapai salah satu periode paling penting dalam sejarah Dinasti Abbasiyah. Baghdad ketika itu berkembang menjadi kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa.
Kemajuan ilmu pengetahuan turut memperkuat posisi Baghdad sebagai pusat peradaban Islam pada masa Abbasiyah. Masyarakat mengembangkan kajian agama, filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, kimia, hingga sejarah.
Baitul Hikmah menjadi salah satu lembaga yang memperkuat perkembangan ilmu pengetahuan di Baghdad pada masa Abbasiyah. Lembaga tersebut berkaitan dengan kegiatan penerjemahan dan perkembangan tradisi intelektual.
Baghdad juga memiliki kehidupan sastra yang berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakatnya. 'Seribu Satu Malam' turut memperkuat citra Baghdad dalam dunia sastra.
'Seribu Satu Malam' merupakan kumpulan cerita yang menggunakan tokoh Ratu Syahrazad sebagai pencerita utama. Syahrazad mengisahkan berbagai cerita kepada Raja Syahriar setiap malam untuk menunda hukumannya dari sang Raja. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....