Mengenal Beragam Fungsi 'Bale' di Kampung Adat Sade
- 30 Agt 2026 11:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kampung Adat Sade di Lombok Tengah memiliki sekitar 150 rumah adat yang masih digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat setempat.
- Setiap rumah tradisional di Kampung Adat Sade memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan spesifik masyarakat.
- Rumah-rumah adat di Sade mempertahankan bentuk khas dan arsitektur tradisional yang mencerminkan nilai budaya masyarakat Lombok.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kampung Adat Sade di Lombok memiliki rumah tradisional dengan fungsi yang berbeda-beda. Di balik bentuknya yang khas, rumah-rumah tersebut memiliki fungsi berbeda sesuai kebutuhan masyarakat.
Kampung Adat Sade berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kawasan tersebut memiliki sekitar 150 rumah adat yang masih digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat.
Melansir Visit Indonesia, dalam budaya Sasak, rumah tradisional dikenal dengan sebutan bale. Beberapa jenis bale memiliki fungsi berbeda, seperti Bale Tani, Bale Kodong, dan Bale Bonter.
Bale Tani merupakan rumah yang digunakan oleh keluarga yang sudah menikah. Jenis rumah ini menjadi salah satu bentuk hunian yang paling umum ditemukan dalam permukiman masyarakat Sasak.
| Baca juga: Mengenal Wae Rebo Kampung Adat di Flores |
Berbeda dengan Bale Tani, Bale Kodong memiliki ukuran yang lebih kecil. Rumah tersebut biasanya digunakan oleh pasangan yang baru menikah sebelum memiliki kebutuhan ruang yang lebih besar.
Ada pula Bale Bonter yang memiliki fungsi berbeda dari rumah untuk keluarga. Bangunan ini digunakan oleh tokoh atau pejabat adat desa untuk kegiatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat.
Selain ketiga jenis tersebut, masyarakat Sasak juga mengenal Bale Lumbung. Bangunan ini digunakan untuk menyimpan hasil panen, terutama padi, dan biasanya dibuat terpisah dari rumah tinggal.
Perbedaan fungsi tersebut menunjukkan bahwa rumah tradisional Sade tidak hanya dibuat untuk tempat tinggal. Bentuk dan pembagian bangunannya juga berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Sasak.
Rumah-rumah tradisional Sade menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Kayu digunakan untuk rangka, bambu untuk dinding, serta alang-alang atau jerami untuk bagian atap.
Lantai rumah juga memiliki cara pembuatan yang cukup unik. Tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau atau sapi digunakan sebagai campuran lantai secara tradisional.
Sebab, setiap bale tidak hanya memiliki bentuk khas. Tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Keberagaman fungsi rumah tersebut menjadi bagian dari pengetahuan tradisional masyarakat Sasak. Tradisi itu menunjukkan bagaimana sebuah permukiman dapat mengatur ruang berdasarkan kebutuhan keluarga dan kehidupan bersama.
Dari Bale Tani hingga Bale Bonter, setiap bangunan memiliki peran masing-masing dalam kehidupan masyarakat Sade. Keberadaan berbagai jenis bale membuat kawasan tersebut memiliki nilai budaya yang lebih dari sekadar bentuk rumah tradisional. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....