Apa Itu Teknologi Modifikasi Cuaca? Kenali Cara Kerja dan Manfaatnya
- 18 Agt 2026 17:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah upaya mitigasi yang dirancang untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem melalui pemanfaatan proses alami pada awan.
- TMC tidak menciptakan cuaca dari nol, melainkan memanfaatkan mekanisme meteorologi yang sudah ada pada formasi awan untuk dioptimalkan.
- Teknologi ini merepresentasikan pendekatan ilmiah terhadap adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
RRI.CO.ID, Jakarta – Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu upaya mitigasi untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem. Teknologi ini bukan menciptakan cuaca dari nol, melainkan memanfaatkan proses alami pada awan yang tersedia.
Melansir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), modifikasi cuaca di Indonesia bermula pada 1977 atas inisiatif Presiden Soeharto. Saat itu, Soeharto mengutus B.J. Habibie mempelajari teknologi hujan buatan setelah melihat penerapannya di Thailand.
Awalnya, teknologi ini difokuskan untuk mendukung sektor pertanian dengan mengisi waduk-waduk bagi kebutuhan irigasi dan pembangkit listrik. Seiring waktu, fungsinya meluas hingga digunakan untuk mitigasi kebakaran hutan, banjir, dan pengamanan acara kenegaraan besar.
Secara teknis, operasi TMC dilakukan dengan menyemai garam atau bahan flare ke dalam awan menggunakan pesawat khusus. Penyemaian tersebut bertujuan mempercepat proses pembentukan butiran air sehingga hujan dapat turun lebih cepat.
Melansir Institut Pertanian Bogor (IPB), TMC tidak dapat menciptakan hujan tanpa adanya awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Teknologi tersebut bekerja dengan mengintervensi proses fisika pada awan yang sudah memiliki potensi hujan.
Bahan higroskopis atau aerosol ditambahkan ke dalam awan untuk membantu proses pembentukan butiran air. Kondisi atmosfer juga menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan operasi TMC.
Efektivitas modifikasi cuaca akan menurun drastis ketika badai sudah berkembang sangat kuat di atmosfer. Karena itu, pengukuran kondisi atmosfer menggunakan balon cuaca dan instrumen lain selalu dilakukan sebelum operasi ini dimulai.
Melansir Jurnal Sains dan Teknologi Modifikasi Cuaca, TMC pernah berkontribusi terhadap peningkatan produksi beras nasional sebesar 25 persen. Peningkatan tersebut dicapai melalui penambahan pasokan air irigasi pada sejumlah waduk di Jawa dan Lampung.
Selain itu, TMC mampu meningkatkan curah hujan di suatu wilayah sebesar 15 hingga 35 persen. Angka ini menjadikan teknologi tersebut sebagai solusi strategis untuk mengoptimalkan potensi lahan sawah yang belum termanfaatkan secara maksimal.
Selain itu, TMC disebut mampu meningkatkan curah hujan di suatu wilayah sebesar 15 hingga 35 persen. Kondisi tersebut dapat mendukung ketersediaan air bagi sektor pertanian. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....