Pengamat Hingga Mantan Pemain Dukung Soal Aturan Liga 1 Suporter Tamu Dilarang Hadir

  • 07 Jun 2021 17:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Aturan baru terkait larangan suporter tim tamu hadir di stadion berlaku saat Kompetisi Liga 1 musim depan. Aturan baru ini dibuat PSSI dan PT LIB guna mengantisipasi kerusuhan antar suporter.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menjelaskan, pasca tragedi Kanjuruhan Malang, persepakbolaan Indonesia masih dalam masa transisi dan pantauan FIFA. Jika selama masa transisi kembali terjadi kerusuhan suporter, FIFA akan memberikan sanksi pada PSSI.

Pengamat Sepak Bola Nasional Kesit Budi Handoyo mendukung langkah PSSI dan PT LIB pada musim kompetisi Liga 1 2023/2024 terkait kehadiran suporter yang hanya dibolehkan bagi suporter dari tuan rumah.

Kesit berpendapat, kebijakan tersebut diambil demi keamanan, kelancaran dan kenyamanan bersama jalannya pertandingan, mengingat suporter Indonesia mudah sekali terjadi gesekan di lapangan saat bertemu membela tim kesayangannya masing-masing.

“Di sisi lain kita ingin mereka bisa hadir langsung agar bisa mendukung tim pujaan, membuat stadion lebih bergemuruh. Namun di sisi lain masih ada tahapan yang sepertinya harus dijalani PSSI terkait dengan kesiapan pihak keamanan dalam menjaga kelancaran dan kenyamanan tempat atau kota di mana pertandingan itu digelar,” ujar Kesit, Rabu (7/6).

Kesit menambahkan, pelarangan tersebut juga sebagai bentuk mitigasi terhadap bentrok antar suporter yang kerap terjadi di lapangan, pasalnya pasca tragedi Kanjuruhan, Indonesia saat ini masih dipantau FIFA yang siap menjatuhkan sanksi jika hal serupa terjadi kembali.

“Selain itu soal warning yang diberikan FIFA tentunya juga tak bisa diabaikan,” ucapnya.

Lanjut Kesit menyampaikan suporter Indonesia dan umumnya masyarakat Indonesia sangat mudah lupa terhadap suatu peristiwa atau tragedi. Ia mencontohkan ketika terjadi kerusuhan seperti yang terjadi di Malang atau pun Semarang, beberapa waktu kemudian terlupakan.

“Pasca kejadian biasanya saling mengingatkan dan menyadarkan agar tidak lagi mengulang. Tapi, selama ini, setelah kejadian berlalu beberapa saat, seperti lupa, kemudian disadari atau tidak bikin ulah lagi yang akhirnya merugikan klub dan juga masyarakat lainnya,” paparnya.

Lebih lanjut Kesit mengatakan sebagus apa pun peraturan yang dibuat PSSI untuk mencegah kerusuhan suporter jika tidak dipatuhi dan dijalankan dengan baik oleh seluruh suporter hasilnya akan sama saja.

“Apalagi jika sanksi yang diberikan tidak pernah membuat effect jera, maka kekhawatiran bakal terjadinya kericuhan tetap ada,” ulasnya.

Oleh sebab itu, Kesit mendorong agar suporter bisa mengubah sikapnya untuk menjadi fans yang tidak membabi buta mendukung tim kesayangannya.

“Fanatismenya tidak perlu berlebihan. Ketika akan bertolak ke stadion, ya harus membawa bekal sportivitas, artinya, mereka jangan hanya siap untuk menang, melainkan juga siap untuk menerima kekalahan,” ungkapnya.

“Intinya harus dewasa dalam bersikap, karena rivalitas di lapangan itu hanya 90 menit. Besok, lusa atau musim berikutnya masih ada pertandingan lainnya. Dan mereka tetap bisa memberikan dukungannya,” tukas Kesit.

Pendiri Viking, suporter Persib Bandung, Herru Joko mengatakan, meski sudah ada aturannya, tapi regulasi larangan kehadiran suporter tim tamu di stadion pada Liga 1 2023/2024 harus dievaluasi secara berkala.

"Saya bisa memahami keputusan PSSI dan LIB menetapkan regulasi ini yaitu agar atmosfer sepakbola Indonesia membaik. Tapi, saya yakin bahwa, regulasi itu sifatnya sementara. Sebab, sejatinya, sepakbola itu bisa nyaman ditonton oleh siapapun dan di manapun," kata Herru, Rabu (7/6).

Berdasarkan pemahaman Herru, larangan suporter tamu datang mendukung tim kesayangannya di laga away untuk menghindari gesekan yang akan berdampak kepada masalah keamanan dan keselamatan.

Disebutkan, regulasi ini dilatarbelakangi oleh empati PSSI dan LIB terhadap tragedi Kanjuruhan dan beberapa insiden kerusuhan di stadion lainnya. Dikatakannya, PSSI dan LIB tidak ingin terjadi lagi korban berjatuhan dari gesekan antarsuporter. Dan karena sepakbola Indonesia masih dalam pantauan FIFA

"Menurut saya, regulasi ini memang tidak populer. Tapi menurut saya keren. Inilah keputusan terbaik dari PSSI dan LIB setidaknya untuk saat ini. Tujuan PSSI dan LIB ingin agar atmosfer sepak bola di Tanah Air kembali kondusif, termasuk dari sisi keamanan," kata Herru.

Setelah atmosfer sepak bola nasional kondusif lagi, Herru percaya, PSSI dan LIB akan meninjau ulang regulasinya dan kembali mengizinkan suporter tim tamu datang ke stadion.

"Sekali lagi, saya yakin bahwa, regulasi ini akan terus dievaluasi. Kalau sudah kondusif, PSSI dan LIB pasti akan mengizinkan suporter tamu untuk mendukung timnya lagi," katanya.

Sementara itu, mantan pemain PERSIB, Yudi Guntara menyatakan dukungannya terhadap kebijakan larangan sementara suporter tandang.

Menurutnya, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir punya banyak kebijakan untuk mendukung perbaikan persepakbolaan nasional, salah satunya untuk menghindari gesekan antar suporter.

Oji, sapaan akrab Yudi Guntara menjelaskan, PSSI dan PT LIB punya alasan kuat menetapkan larangan kedatangan suporter tamu tersebut sebagai regulasi. Salah satunya pertimbangan keamanan.

Dia berpendapat banyak hal prinsip yang harus dipahami di balik pengambilan keputusan regulasi ini. Apalagi, dalam situasi yang dinilai belum kondusif dalam industri sepakbola Indonesia saat ini.

"Menurut pandangan saya, ketua umum PSSI dan LIB mengeluarkan larangan suporter hadir saat di laga tandang, karena mungkin tidak mau ada keributan. Kedua, karena Indonesia akan menghadapi tahun politik yang juga rawan dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Yudi.

Karena itu, dia mendukung untuk sementara suporter untuk tidak menyaksikan laga tandang demi kepentingan sepakbola Indonesia. Terlebih jika terjadi hal-hal tidak diinginkan, hal itu akan berdampak luas, mulai dari jadwal pertandingan yang akan terganggu hingga potensi sanksi dari FIFA yang terus memantau secara ketat kondisi persepakbolaan di Indonesia.

"Mungkin saja, alasan-alasan itu yang membuat Pak Erick Thohir atau PSSI atau PT LIB sebagai regulator mengeluarkan larangan tersebut. Sebab, PSSI juga sedang berjuang membenahi persepakbolaan nasional, termasuk pengadaan VAR. Jadi, saya percaya kebijakan ini untuk kebaikan sepakbola Indonesia," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....